Rabu, 30 Agustus 2017

Resensi: Keteguhan Perempuan Memeluk Rasa Sakit

Judul: Tentang Kamu
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Republika
Cetakan: I, Oktober 2016
Tebal Buku: 524 halaman
ISBN: 9786020822341

Rasa sakit sudah pasti pernah hinggap di hati siapa saja. Bisa karena situasi yang tidak diharapkan (nasib buruk), dikecewakan, dikhianati, ataupun diperlakukan secara tidak adil. Di sinilah kadar kesabaran seseorang teruji. Namun ketika kesakitan demi kesakitan terus saja menghampiri, bisakah kita terus bersabar?

Kali ini Tere Liye kembali menyapa pembaca dengan menyuguhkan kisah apik yang menyentuh dan inspiratif. Ada banyak pembelajaran yang bisa diambil dari tokoh-tokoh karangannya. Tidak tanggung-tanggung, penulis memakai lima tempat sekaligus sebagai latar dalam novelnya.

Kisah bermula ketika Zaman Zulkarnaen, pengacara kelahiran Indonesia yang bekerja di firma hukum Thompson & Co di Belgrave Square, London, ditunjuk oleh pimpinannya untuk memecahkan kasus pencarian ahli waris dengan aset kepemilikan saham sebesar 10 miliar poundsterling/19 triliun rupiah (halaman 11).

Zaman terpilih untuk menangani settlement wasiat wanita bernama Sri Ningsih karena kesamaan latar belakang mereka. Ia dianggap lebih mampu dalam mengungkap kehidupan masa lalu Sri, termasuk ahli warisnya yang mungkin masih hidup (halaman 15).

Petualangan Zaman dimulai. Ia harus menelusuri tempat-tempat yang pernah bersinggungan dengan Sri Ningsih. Panti jompo di Paris merupakan tempat pertama yang ia datangi, mengingat kliennya mengembuskan napas terakhir di sana. Pihak panti pula yang pertama kali menelepon kantor Thompson & Co, atas permintaan Sri sebelum ia wafat. Berbekal buku harian Sri Ningsih yang didapat dari Aimee, pengurus panti, Zaman mendapat petunjuk mengenai tanah kelahiran wanita itu. Ia pun memutuskan untuk datang ke Pulau Bungin. Awalnya tentu tidak mudah menemukan orang yang bisa bercerita tentang masa 1940-an.

Beruntung, setelah pencarian hari kelima Zaman berhasil bertemu dengan Ode, atau yang biasa dipanggil Pak Tua oleh penduduk Pulau Bungin lainnya. Ia sangat mengenal Sri semasa kecil. Berdasarkan penuturan Pak Tua-lah, kisah masa kanak-kanak Sri Ningsih terurai. Sri lahir dari pasangan Nugroho dan Rahayu, pendatang dari Pulau Jawa, putri dari seorang pelaut tangguh. Ibunya meninggal saat ia dilahirkan. Delapan tahun kemudian sang ayah menikah lagi dengan Nusi Maratta.

Nusi sangat mencintai Nugroho, begitu pula kepada anak tirinya. Namun peristiwa memilukan yang menimpa keluarga mereka, membuat Nusi Maratta begitu membenci Sri Ningsih, bahkan dengan tega menyebut Sri sebagai anak yang dikutuk (halaman 85). Selang beberapa tahun setelah Nugroho meninggal, Nusi Maratta dikabarkan tewas terpanggang.

Tidak ada yang tersisa selain kenangan masa lalu yang menyedihkan. Sri bersama adik tirinya, Tilamuta, beranjak meninggalkan Pulau Bungin. Pergi ke Surakarta untuk  belajar di madrasah milik Kiai Ma'sum, kerabat gurunya.

Kisah berlanjut. Zaman terbang ke Surakarta untuk mengunjungi madrasah. Dari Nur'aini, putri Kiai Ma'sum sekaligus sahabat sejati Sri Ningsih, cerita muram kembali diurai. Tentang kedengkian yang membinasakan. Di tahun 1965 terjadi tragedi Pemberontakan PKI di Surakarta. Bertujuan untuk mengambil alih kekuasaan dengan melakukan tindakan keji: membunuh para kiai, tuan tanah, termasuk juga para santri hingga menjadikan madrasah masa itu tergenang darah. Peristiwa mengerikan itu membuat Sri memutuskan pindah ke Jakarta. Namun hantu masa lalu tetap mengikutinya hingga ia harus pergi keluar negri. Selain buku harian, Zaman menggali episode-episode kelanjutan dari kisah Sri Ningsih berdasarkan surat-surat Sri kepada Nur'aini.

Salah satu daya tarik dari novel ini adalah kejeniusan tokoh Zaman dalam mengaitkan potongan-potongan kisah silam Sri Ningsih. Bagaimana ia mengungkap penjahat utama dalam hidup Sri, dan kebenaran-kebenaran lain yang menjadi jawaban tentang ahli waris atas semua kekayaannya.

Sedangkan hal yang paling menginspirasi dan mengaduk hati pembaca tentu saja mengenai sosok Sri Ningsih. Kemalangan yang menimpanya bertubi-tubi membentuk karakter Sri menjadi perempuan dengan kepribadian luar biasa. Penyabar, gigih, inovatif, tidak mendendam bahkan sekadar berprasangka pun tidak. Benar-benar sosok yang menginspirasi dan sangat layak menjadi panutan.[]

(Pernah dimuat di harian Radar Sampit edisi Minggu, 27 Agustus 2017)

Senin, 07 Agustus 2017

Resensi: Ajarkan Budi Pekerti Melalui Dongeng


Judul Buku: Dongeng Pembentuk Akhlak Terbaik Sepanjang Masa
Penulis: Irma Irawati
Penerbit: Ziyad Books
Cetakan: 2016
Tebal Buku: 106 halaman
ISBN: 978-602-317-032-6

Mendidik anak sedari usia dini merupakan tanggung jawab sekaligus tantangan bagi para orang tua. Berbagai metode pun dilakukan demi memberi pengajaran hal-hal baik pada sang buah hati. Agar anak menjadi paham dalam membedakan baik-buruknya suatu tindakan serta risiko apa yang akan diperoleh nanti. Dan, bacaan berupa dongeng, hingga kini masih menjadi salah satu pilihan orang tua untuk mengenalkan putra-putrinya mengenai pentingnya memiliki akhlak terpuji.

Kumpulan dongeng pembentuk akhlak ini, berisikan sepuluh cerita dengan tokoh-tokoh hewan yang berprilaku layaknya manusia pada umumnya dengan tema beragam. Menariknya lagi, kesepuluh dongeng diramu berdasarkan pada hadis-hadis mengenai akhlak. Jadi selain menyimak cerita, anak pun bisa mencoba belajar menerapkan hadis itu dalam kehidupan sehari-hari.

Kisah pembuka berjudul Jangan Malu Dong, Robin! berkisah tentang Robin yang merasa malu ketika harus bercerita mengenai profesi ayahnya di depan kelas. Jauh berbeda dengan teman-temannya yang membanggakan pekerjaan ayah masing-masing (halaman 7). Di tengah perasaan malunya, teman-teman justru membesarkan hati Robin. Mereka memuji kehebatan Ayah Robin yang ahli memperbaiki dan membuat banyak benda. Hal itu menjadikannya tidak minder lagi dan berani untuk tampil. Robin baru menyadari bahwa pekerjaan ayahnya sebagai tukang servis perabot rumah tangga bukanlah sesuatu yang memalukan. Sang ayah adalah pahlawan keluarga dan penyelamat bagi barang-barang yang hampir tidak terpakai menjadi layak pakai.

Mengenai nafkah, Allah pun menyukai orang-orang yang makan dengan hasil keringatnya sendiri. Sebagaimana diriwayatkan dalam HR. Bukhari:
"Tidaklah seseorang memakan sesuatu yang lebih baik daripada hasil kerja tangannya sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Allah, Daud, makan dari hasil pekerjaan tangannya."
(halaman 13). Melalui kisah ini, anak akan belajar memahami dan menghargai pekerjaan orang tua. Apa pun profesi mereka, selama itu mendatangkan kebaikan bagi diri sendiri, keluarga, maupun orang lain, patut dihargai dan syukuri. Pesan untuk bersikap baik dan kemauan mendukung teman yang tidak percaya diri juga tersirat pada cerita ini.

Pada kisah berikutnya, penulis mengambil tema berdasarkan salah satu HR. Muslim, bahwa Allah swt., tidak memandang hamba-Nya berdasarkan rupa, namun hatinya. Dikisahkan tentang Bibi Mery, seekor merak yang merasa penampilannya paling bagus dibanding tamu undangan lain. Saking sibuknya menilai dan membanding-bandingan pakaian orang lain dengan dirinya, ia kelaparan karena tidak sempat mencicipi hidangan yang telah disediakan. Ia juga tidak sempat mengobrol dengan mereka yang jarang ditemui.

Ketika tadi Bibi Mery sibuk menertawai dandanan orang lain, kini giliran ia sendiri yang jadi bahan tertawaan orang-orang. Perutnya mengeluarkan suara karena saking laparnya dan minta diisi (halaman 55-56). Pelajaran yang bisa dipetik dari kisah ini ialah kesombongan tidak akan memberi keuntungan apa-apa bagi pelakunya. Daripada terlalu sibuk dengan penampilan luar, akan lebih baik bila diimbangi dengan berbenah hati.

Temui pula kisah-kisah hewan lain yang tak kalah asyik dan menarik untuk disimak, seperti: Pak Sepo, si ikan sapu-sapu yang giat menjaga kebersihan. Koci, burung kakaktua yang bawel. Ada pula kisah Pak Bingo, si bangau baik hati yang selalu berusaha menebar manfaat bagi makhluk di sekelilingnya.

Inilah sarana belajar yang menyenangkan. Dengan membaca atau menyimak dongeng-dongeng yang ditawarkan dalam buku ini, anak tidak hanya akan terhibur, namun juga melatih daya imajinasi dan menambah pengetahuan. Belajar akhlak dan hadis bersama tokoh-tokoh hewan tentu tidak membuat anak cepat bosan.

Dengan gaya penyampaian yang ringan sesuai untuk usia dini, ilustrasi full colour  yang menggugah rasa penasaran, serta bonus lembar mewarnai di halaman belakang, membuat buku ini semakin layak untuk diburu.[]

Peresensi: Leli Erwinda

(Pernah dimuat di harian Singgalang edisi Minggu, 6 Agustus 2017)

Sabtu, 29 Juli 2017

Resensi: Pengorbanan yang Membawa Keberuntungan

Judul Buku: Beauty and the Beast
Penulis: Madame de Villeneuve
Penerbit: Qanita
Tebal Buku: 244 halaman
Cetakan: I, Februari 2017
ISBN: 978-602-402-054-5

Sejak usia dini, kita telah diperkenalkan dengan dongeng yang beragam baik melalui penuturan langsung dari ibu, buku-buku, maupun tayangan televisi. Bukan hanya dari dalam negeri, dongeng luar negeri pun turut mengisi kenangan masa kecil. Salah satu yang tentu lekat di ingatan adalah kisah Beauty and the Beast. Ketika si cantik Belle, harus bersedia menikah dengan Beast si buruk rupa demi menyelamatkan nyawa ayahnya. Siapa sangka, pengorbanan Belle justru membawa pada keberuntungan luar biasa. Tak heran, kisah yang syarat akan pesan moral ini berulang kali diadaptasi menjadi serial televisi hingga layar lebar. Terbaru di tahun ini, Walt Disney merilis versi live action-nya yang diperankan oleh Emma Watson.

Sebuah novel karangan Madame de Villeneuve ini, diakui para peneliti sastra sebagai versi tertua Beauty and the Beast. Meski hingga kini versi ringkas yang ditulis ulang oleh Leprince yang paling dikenal dunia (halaman 237-238).

Diceritakan tentang seorang Saudagar dengan kekayaan berlimpah. Meski istrinya telah tiada, ia hidup bahagia bersama keenam putra dan enam putrinya. Namun tanpa disangka-sangka nasib buruk datang bertubi-tubi. Rumah beserta aset berharga hangus terbakar. Setelahnya bisnis sang Saudagar mengalami kerugian, kapal-kapal hancur diserbu bajak laut. Ia bahkan dikhianati dan ditipu oleh para pegawainya (halaman 9-10).

Dua tahun hidup dalam kemalangan, harapan baru itu menyapa. Kabarnya, salah satu kapal beserta barang dagangan milik Saudagar merapat dengan selamat di pelabuhan. Namun naas, yang terjadi setelahnya malah jauh dari harapan. Para mitra yang mengira dirinya telah meninggal dunia, membagi-bagikan isi muatan kapal (halaman 20).

Tak mendapat hasil apa-apa, ia pun memutuskan untuk kembali. Pada perjalanan pulang inilah sang Saudagar bertemu dengan sosok Beast. Ia singgah sejenak di istana milik sang monster, beristirahat dan menyantap makanan di sana, lalu tanpa izin memetik sekuntum mawar di lorong istana untuk memenuhi janjinya pada Belle. Hal ini yang kemudian memicu kemarahan Beast. Hingga sebuah kesepakatan pun terjadi. Saudagar itu akan terbebas dari kematian apabila ia menyerahkan salah seorang putrinya sebagai penebus kelancangannya.

Setiba sang Saudagar ke rumah, ia menceritakan segala hal yang menimpanya. Termasuk pertemuan dan perjanjian gila bersama Beast. Mendengar kabar buruk yang dituturkan sang ayah, tak satu pun dari saudari-saudari Belle yang sudi melakukan pengorbanan mulia itu. Mereka merasa Belle-lah yang paling layak bertanggungjawab atas apa yang menimpa ayahnya. Terlebih selama ini mereka menyimpan kecemburuan pada gadis itu. Ya, Belle dengan kecantikan dan kebaikan hatinya memang membuatnya lebih menonjol dan disukai siapa saja.

Belle pun setuju. Ia mengakui bahwa dirinyalah penyebab malapetaka ini. Tidak adil bila saudaranya harus menderita karena kesalahannya. Permintaan Belle kala itu memang tampak sepele, hanya minta dibawakan mawar pada musim panas. Siapa yang menduga kalau ia mesti mendapat hukuman begitu kejam? (halaman 41).

Membayangkan hidup bersama sesosok monster tentu terasa mengerikan. Namun Belle berhasil melaluinya. Banyak hal tidak terduga yang ia alami. Termasuk menyadari bahwa Beast tidaklah semengerikan yang terlihat. Ia berhati lembut dan sangat sopan terhadap Belle. Hingga di suatu malam dan malam berikutnya Belle bermimpi bertemu pemuda tampan. Ia mulai bertanya-tanya, mungkinkah pemuda itu juga tawanan Beast, sama seperti dirinya?

Sebagaimana dongeng pada umumnya, kisah ini memberikan pelajaran berharga bagi pembaca. Lewat tokoh Belle, pembaca akan semakin sadar betapa pentingnya berbakti kepada orangtua, juga kerelaan untuk berkorban demi orang yang disayangi. Belle bukan hanya cantik secara fisik, tetapi juga memiliki hati yang sangat mulia. Sungguh tak akan merugi seseorang yang berbudi baik seperti itu, sebab akhirnya kebaikan akan membawa seseorang pada kebahagiaan tak terhingga.[]

(Pernah dimuat di harian Radar Sampit pada Minggu, 2 Juli 2017)

Selasa, 25 Juli 2017

Resensi: Pencarian Jati Diri Sang Gadis Tembakau


Judul Buku: Genduk
Penulis: Sundari Mardjuki
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Agustus 2016
Tebal Buku: 232 halaman
ISBN: 978-602-03-3219-2

Sebuah novel bergaya memoar ini, disusun oleh Sundari Mardjuki berdasarkan hasil riset mendalam mengenai keluarga petani tembakau di desa Temanggung, Jawa Tengah, disertai tradisi masyarakatnya di era 70-an. Tokoh utama-lah yang nanti membawa pembaca pada kisah berharga, memetik hikmah dari fase hidup yang berhasil dilalui sebagai "gadis tembakau".

Gadis muda yang lebih akrab disapa Genduk, lahir dalam keluarga dan lingkungan petani di lereng Gunung Sindoro, Desa Ringinsari, Temanggung. Dibesarkan seorang diri oleh Yung (ibu) yang berwatak dingin dan keras, tanpa sosok Pak'e (bapak) di sisinya.

Genduk tidak pernah tahu seperti apa rupa bapaknya, namun ia bisa membayangkannya berkat penuturan Kaji Bawon, bahwa Pak'e memiliki perawakan tinggi dan gagah. Kulit bersih, tangannya halus, sehalus tutur katanya. Berbeda dengan Yung yang bertulang pipi tinggi dan menonjol,  terbalut bercak kehitaman akibat dijerang sinar matahari gunung (halaman 18-19).

Kala itu, Desa Ringinsari sedang musim tembakau. Segala yang dimiliki petani dipertaruhkan karena jenis tanaman ini telah menguji nyali petani sejak awal ladang dipaculi, ditanami, hingga masa panen. Selain butuh pupuk, benih yang ditanam harus ekstra dijaga dari gulma. Bila bibit mati, maka harus segera diganti dengan bibit baru (halaman 23).

Pupuk dan stok bibit yang memadai memerlukan biaya yang banyak. Itu berarti siapa punya banyak uang, dia yang akan bertahan. Sementara mereka yang keuangannya sulit, ketar-ketir. Tak ada jalan kecuali meminjam uang orang lain bahkan lari ke rentenir. Bila hasil penjualan tembakau baik, hutang bisa tertutupi. Sebaliknya, bila harga tembakau anjlok, petani akan semakin sulit karena terlilit hutang.

Tradisi. Seperti yang telah disebutkan di awal, bahwa penulis juga mengangkat adat kebiasaan turun-temurun masyarakat Jawa. Di awal musim memanam tembakau (hari wiwitan), penduduk sekitar lereng Sindoro melakukan ritual Among Tebal, tradisi memohon pada Gusti Allah agar panen melimpah.

Berarak menuju mata air Tuksari, semua orang berkumpul membawa aneka tumpeng: tumpeng putih, tumpeng kuning, dan tumpeng hitam. Ada ingkung ayam kampung, irisan telur dadar, buah-buahan, dan jajanan pasar (halaman 46-47).

Waktu terus melaju. Tumbuhan tembakau mulai kuat. Batangnya semakin besar dan kokoh. Setiap lembar daunnya adalah harta yang tidak ternilai, yang menjadi penentu hidup petani selanjutnya. Sembilan bulan hidup dalam keprihatinan akan ditentukan nasibnya dalam tiga bulan ke depan. Apakah daun-daun itu akan memberi laba atau justru malapetaka (halaman 66).

Pada masa panenlah para gaok/tengkulak melancarkan aksinya. Mempermainkan harga tembakau, mengakali petani, hingga Genduk terpaksa berurusan dengan gaok licik bernama Kaduk demi menyelamatkan penjualan tembakau ibunya.

Konflik semakin menderas, tak terbendung. Banyak fakta dan kejadian pahit yang mesti ia hadapi. Termasuk permasalahan petani yang memuncak ketika salah seorang warga bunuh diri karena tak kuat dipermainkan gaok. Dibarengi dengan upaya mencari jejak bapaknya, serta masalah demi masalah yang mesti ia selesaikan, di sinilah karakter Genduk semakin terbentuk.

Secara keseluruhan, tokoh Genduk mewakili sosok perempuan belia tangguh, cerdas, dan tanggap yang tidak hanya mampu membawa pengaruh besar bagi keluarga, namun juga lingkungannya. Keteguhan hati serta keberaniannya dalam mengambil sikap membawa warga pada keadilan yang pantas mereka dapat. Memberi pelajaran bahwa seseorang tumbuh bukan sekadar untuk mengejar pengakuan, namun mencari keadilan, kebenaran, yang bahkan di era saat ini makin abu-abu.[]
***

(Pernah dimuat di Harian Singgalang, Padang, pada 2 April 2017)

Kamis, 18 Mei 2017

Resensi: Belajar dari Para Miliarder dalam Melejitkan Produktivitas

Judul: 77 Mantra Meningkatkan Produktivitas Diri Ala Miliarder 
Penulis: Erlita Pratiwi
Penerbit: Grasindo
Cetakan: I, Juni 2016
Tebal Buku: 336 halaman
ISBN: 9786023755233

Produktivitas sebagai bagian dari kualitas diri. Yakni kemampuan dalam meraup hasil dari apa yang diusahakan hingga mencapai target. Bukan sebanyak apa yang bisa dikerjakan, tetapi keefektifan dalam bertindak yang mengacu pada hasil maksimal. Bicara mengenai produktivitas, ada banyak kebiasaan yang bisa ditiru dari para miliarder dunia dalam "77 Mantra Meningkatkan Produktivitas Diri Ala Miliarder". Akan ditemukan pula beragam tips dan cara penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan buku, untuk bisa produktif jam kerja harus benar-benar digunakan untuk bekerja. Agar waktu tidak terbuang sia-sia dan semua pekerjaan bisa selesai dengan baik. Boleh saja berleha-leha namun tentunya dilakukan setelah tugas usai (halaman 10). Artinya, kedisiplinan dalam pengaturan waktu sangat berpengaruh terhadap kinerja seseorang. Semakin disiplin, makin baik pula hasilnya.

Dalam bidang apa pun, tutur penulis, disiplin waktu merupakan modal utama bila ingin produktif. Maka buatlah jadwal kegiatan dan laksanakan dengan penuh disiplin. Dengan begitu, tidak ada waktu yang terbuang percuma. Ini rahasia utama kesuksesan Oprah Winfrey, wanita pertama yang memiliki talk show  sendiri hingga dinobatkan sebagai salah satu dari 100 orang paling berpengaruh di abad 20 oleh Majalah  Time. Tidak hanya sampai di situ, setelahnya Oprah Winfrey juga memproduksi mini seri televisi dan menerbitkan dua majalah. Berkat usahanya, ia pun berhasil menempati posisi sebagai wanita pertama Amerika-Afrika yang menjadi miliarder (halaman 42-43).

Tetapkan satu waktu untuk satu pekerjaan. Tuntaskan satu, lalu berlanjut ke pekerjaan lainnya secara tertahap. Agar fokus lebih terjaga karena pikiran tidak bercabang-cabang. Ini penting untuk diterapkan bila ingin meniru kebiasaan Steve Jobs, yang semasa hidupnya sempat menjabat sebagai CEO Apple dan dikenal dengan produk unggulan rancangannya: iPhone.

Menurut Steve Jobs, multitasking justru membunuh produktivitas. Karena dengan melakukan banyak hal secara bersamaan, seseorang tidak dapat memberikan perhatian yang dibutuhkan pada semua hal. Itu berdampak pada kualitas pekerjaan (halaman 120). Multitasking baru akan berhasil bila kedua pekerjaan menggunakan bagian otak yang berbeda. Misalnya membaca sambil mendengarkan musik instrumental.

Tips berikutnya yang bisa dijadikan alternatif datang dari Fred Mouawad, yaitu dengan membuat skala prioritas tentang kepentingan pekerjaan dan kepentingan pribadi. Pola hidup seimbang ini membuatnya lebih produktif karena ia bisa mengurus perusahaan tanpa kehilangan quality time  bersama keluarga. Fred Mouawad berhasil memiliki kekayaan US$ 1,1 miliar dan pernah dinobatkan sebagai kolektor berlian termahal dunia.

Miliarder lain yakni Will Smith, aktor asal Amerika peraih Academy Award dan Grammy Award yang sukses di bidang film, televisi, dan industri musik Amerika menuturkan, "Jangan katakan kepada diri sendiri bahwa Anda akan membuat dinding terbesar yang pernah dibuat. Letakkan satu bata pada suatu waktu sesempurna mungkin. Lakukan itu setiap hari, dan segera Anda akan memiliki dinding."
Maksudnya, jangan terpaku untuk menjadi seseorang yang hebat, tetapi fokuslah untuk berbuat yang terbaik hingga suatu saat nanti Anda menjadi hebat (halaman 208).

Ubah cara pandang terhadap kesuksesan agar tidak terlalu terpuruk bila gagal. Lakukan saja pekerjaan secara benar, maksimal, dan penuh rasa tanggung jawab maka kelak kesuksesan akan berada dalam genggaman.

Dari 77 mantra yang terangkum di dalam buku ini, hal terpenting yang mesti dilakukan adalah niat dan upaya untuk memulai. Setelahnya tingkatkan sistem kerja dengan terus mengasah kemampuan secara berkesinambungan. Cari dan serap lebih banyak lagi pengetahuan yang berhubungan dengan bidang yang dijalani.[]

(Pernah dimuat di Koran Jakarta, 8 November 2016)

Selasa, 16 Mei 2017

Resensi: Investigasi terhadap Fenomena Supranatural


Judul Buku: The Haunting of Hill House
Penulis: Shirley Jackson
Penerbit: Qanita, Mizan Group
Cetakan: I, Januari 2017
Tebal Buku: 376 halaman
ISBN: 978-602-402-056-9

Pada umumnya, kisah horor biasa disuguhkan dengan latar suasana mencekam, disertai kemunculan makhluk halus yang digambarkan sebagai sosok menyeramkan.

Namun berbeda dengan novel karangan Shirley Jackson ini. Salah satu karya horor terbaik di abad 20-an, yang telah menginspirasi banyak penulis besar seperti Stephen King, justru menyajikan kisah hantu-hantu tak kasatmata. Sisi horor pendukungnya terletak pada bangunan yang entah sengaja atau tidak, dirancang sedemikian ganjil. Serta daftar tragedi yang cukup panjang terhubung dengannya.

Rumah tanpa kebaikan, tak pernah dimaksudkan untuk ditinggali, tidak sesuai untuk manusia, untuk cinta atau membawa suatu harapan (halaman 53-54).

Hill House, begitu orang-orang menyebutnya. Merupakan rumah yang dibangun di area perbukitan, terpencil, jauh dari keramaian. Tempat yang semestinya menjadi pengayom, memberi ketenangan bagi semua penghuni, justru menjadi awal dari keputusasaan. Telah banyak kejadian tak menyenangkan yang terjadi di sana. Dr. Montague, seorang doktor ilmu filsafat justru tertarik pada rumor-rumor mengerikan mengenai Hill House guna melakukan penelitian tentang aktivitas supernatural.

Ia memutuskan menyewa Hill House untuk tiga bulan, sepanjang musim panas. Ditemani tiga orang asisten: Eleanor, Theodora, dan Luke yang bahkan tidak tahu untuk alasan apa mereka harus berada di tempat itu.

Setelah menjelaskan tujuannya mengundang ketiga orang itu, Dr. Montague mulai menceritakan sejarah Hill House. Ia menjelaskan, bahwa rumah itu dibangun sekitar delapan puluh tahun silam oleh pria bernama Hugh Crain untuk keluarganya. Ia berharap kelak bisa menjalani hari tua bersama anak-cucu dalam kemewahan yang nyaman dan tenang. Malangnya, kereta kuda yang membawa istri Hugh Crain ke tempat itu terguling di jalan masuk. Sang istri meninggal di tempat, kemudian dibawa ke rumah yang didirikan sang suami untuknya. Rumah yang bahkan belum sempat ia lihat (halaman 113).

Pria malang itu ditinggal mati sang istri dengan dua anak perempuan yang masih kecil-kecil. Hugh Crain sempat menikah lagi dan kembali ia harus merasakan kegetiran yang sama. Istri kedua meninggal karena terjatuh, sedangkan istri ketiga meninggal karena penyakit paru. Hugh meninggal dunia tak lama setelah istrinya tiada, dan Hill House menjadi rebutan kedua putrinya.

Si bungsu menikah, dan konon membuat putri pertama patah hati lalu memutuskan hidup sendirian di Hill House. Setelah beberapa tahun berada dalam pengasingan, ia mengajak seorang gadis desa untuk tinggal bersama sebagai pendamping. Meski begitu, kedua kakak beradik itu masih terus bertengkar mengenai rumah ini. Hingga di suatu hari, sang kakak meninggal dunia akibat penyakit pneumonia (halaman 116-117).

Gadis pendamping berkeras bahwa rumah itu diwariskan untuknya, tapi adik dan suaminya bersikukuh bahwa rumah itu secara sah milik mereka dan menuduh si pendamping telah memperdaya kakaknya. Tidak hanya sampai di situ, ia terus melontarkan tudingan kejam, surat-surat berisi ancaman, kampanye kebencian yang membuat warga desa jatuh iba padanya dan sebaliknya, mengucilkan gadis pendamping. Hingga gadis malang itu tak tahan lagi dan memutuskan bunuh diri. Ia menggantung diri di bagian kubah menara Hill House.

Seperti yang telah disebutkan di awal, bahwa Hill House bukan hanya dikenal dengan sejarah tragedinya, namun gaya konstruksi bangunan yang memang tidak lazim.  Salah satunya, pintu-pintu yang selalu tertutup dengan sendirinya meski telah dibuka lebar-lebar dan diganjal. Ada pula satu ruangan yang di ambang pintunya memiliki titik dingin, yang apabila dilalui seperti melewati dinding es tak kasatmata.

Selama di sanalah, gangguan demi gangguan terus dirasakan oleh Dr. Montague beserta ketiga asistennya. Mulai dari suara langkah kaki di koridor, hawa dingin yang menggigit, coretan darah pada dinding, ketukan-ketukan di pintu dan kenop yang diputar, suara cekikikan, juga bisikan-bisikan. Ketika keadaan mulai di luar kendali, Dr. Montague dituntut untuk bertindak cepat bila tidak ingin korban nyawa berjatuhan.

Yang menarik dari novel ini, adalah cara penulis dalam mendeskripsikan arsitektur bangunan yang ganjil secara terperinci. Ditambah aktivitas makhluk gaib tak berwujud, yang mengundang rasa ingin tahu sekaligus membuat ngeri.
Tidak berlebihan. Komposisi yang pas untuk sebuah novel horor. Belum lagi akhir cerita yang tak diduga-duga.[]

(Pernah dimuat di koran Radar Sampit edisi 14 Mei 2017)

Selasa, 10 Januari 2017

Resensi: Bangkit Setelah Patah Hati


Judul: Ubah Patah Hati Jadi Prestasi
Penulis: Dwi Suwiknyo
Penerbit: Quanta
Cetakan: I, Oktober 2016
Tebal Buku: 280 halaman
ISBN: 978-602-02-9393-6

Patah hati bisa berdampak pada menurunnya semangat untuk bergerak hingga mengurangi produktivitas seseorang. Kondisi hati yang dilanda kegundahan, tidak tenang, membuat pekerjaan dan kegiatan lain menjadi terganggu. Wajar bila manusia bersedih hati akibat situasi yang tidak diinginkan, tetapi ada yang jauh lebih penting dari itu, yakni bagaimana cara kita menjadikan patah hati sebagai awal dari menggapai prestasi.

Bukan hanya lantaran putus cinta, hinaan, dianggap remeh oleh orang lain juga bisa mematahkan hati seseorang. Tetapi bagaimana bisa maju kalau terus-terusan terpuruk pada masa lalu atau hal-hal yang tidak menyenangkan? Sementara masa depan sudah harus dirancang dan diperjuangkan.

Melalui bukunya, Dwi Suwiknyo menawarkan beragam solusi untuk si patah hati lewat uraian, kiat, serta kisah-kisah inspiratif. Kisah, yang akan membawa pembacanya terpacu untuk menjadi pribadi yang berprestasi. Contohnya saja, kisah salah satu artis Hong Kong terkaya, Chow Yun Fat. Siapa yang mengira bahwa di masa lalunya ia seorang bell boy  di sebuah hotel.

Ketika itu, Chow Yun Fat diminta untuk mencuci mobil mewah tamunya. Namun, ia malah dihina dan dimaki oleh sang atasan karena mencoba masuk ke mobil mewah itu dan berlagak menyetir. Ia hanya tersenyum, tidak membantah, dan malah menjadikan hinaan itu sebagai bahan  bakar untuk terus bekerja keras. Kini, ia telah mengoleksi puluhan mobil serta rumah mewah (halaman 31-32). Ini yang mesti kita contoh. Kesanggupan mengubah hinaan menjadi prestasi.

Lalu kisah seorang Jack Ma, miliarder kelas dunia yang dulunya begitu akrab dengan kegagalan dan penolakan. Ditolak tiga universitas, 30 tempat kerja, sempat membuatnya putus asa. Namun kebutuhan biaya hidup mendesaknya untuk terus bekerja. Dimulai dari bisnis kecil-kecilan yang bahkan dianggap ide bodoh oleh banyak orang. Di tahun-tahun berikutnya ia dinobatkan sebagai orang terkaya di China (halaman 33). Temukan pula kisah inspiratif lainnya yang penulis suguhkan dalam lembaran-lembaran bukunya.

Untuk mencapai sukses dan berprestasi memang tidak mudah. Ada fase tertentu yang mesti dilalui sebelum kesuksesan itu berhasil diraih. Perjuangan tanpa henti. Juga upaya untuk tidak mudah goyah karena suara-suara sumbang yang tidak jarang membuat ciut nyali.

Sebab kondisi mental yang mudah goyah dan rapuh bisa membuat lemah dan berat dalam menjalani hidup. Oleh karenanya, ada tahapan yang mesti dilakukan untuk menyehatkan mental. Yaitu dengan mengenal dan berani mengambil risiko. Sebelum bertindak, pastikan kita telah punya gambaran mengenai keuntungan dan akibat-akibat lainnya. Pahami pula perbedaan mendasar antara nasib dan takdir (halaman 47-48). Tahapan selanjutnya, bisa disimak dalam buku ini dengan lebih lengkap.

Selain pembahasan di atas, buku ini juga memuat lembar renungan di tiap akhir babnya. Di bab tertentu bahkan tersedia daftar pertanyaan untuk mengukur kualitas mental, mengecek potensi kecerdasan, hingga tes semangat juang.

Bacaan yang komplit, menarik, serta syarat perenungan ini cocok dibaca bagi remaja dan dewasa. Terutama untuk pribadi yang sedang patah hati agar segera memperoleh semangat baru demi menyongsong hari esok yang lebih baik. Membangun kepercayaan diri, tidak larut dalam kesedihan masa lalu, terus menggali potensi yang dimiliki, dan bermental tangguh adalah poin-poin  penting dalam buku ini yang sepatutnya bisa kita terapkan.[]
***

(Pernah dimuat di Kabar Madura, 5 Januari 2017)