Sabtu, 29 Juli 2017

Resensi: Pengorbanan yang Membawa Keberuntungan

Judul Buku: Beauty and the Beast
Penulis: Madame de Villeneuve
Penerbit: Qanita
Tebal Buku: 244 halaman
Cetakan: I, Februari 2017
ISBN: 978-602-402-054-5

Sejak usia dini, kita telah diperkenalkan dengan dongeng yang beragam baik melalui penuturan langsung dari ibu, buku-buku, maupun tayangan televisi. Bukan hanya dari dalam negeri, dongeng luar negeri pun turut mengisi kenangan masa kecil. Salah satu yang tentu lekat di ingatan adalah kisah Beauty and the Beast. Ketika si cantik Belle, harus bersedia menikah dengan Beast si buruk rupa demi menyelamatkan nyawa ayahnya. Siapa sangka, pengorbanan Belle justru membawa pada keberuntungan luar biasa. Tak heran, kisah yang syarat akan pesan moral ini berulang kali diadaptasi menjadi serial televisi hingga layar lebar. Terbaru di tahun ini, Walt Disney merilis versi live action-nya yang diperankan oleh Emma Watson.

Sebuah novel karangan Madame de Villeneuve ini, diakui para peneliti sastra sebagai versi tertua Beauty and the Beast. Meski hingga kini versi ringkas yang ditulis ulang oleh Leprince yang paling dikenal dunia (halaman 237-238).

Diceritakan tentang seorang Saudagar dengan kekayaan berlimpah. Meski istrinya telah tiada, ia hidup bahagia bersama keenam putra dan enam putrinya. Namun tanpa disangka-sangka nasib buruk datang bertubi-tubi. Rumah beserta aset berharga hangus terbakar. Setelahnya bisnis sang Saudagar mengalami kerugian, kapal-kapal hancur diserbu bajak laut. Ia bahkan dikhianati dan ditipu oleh para pegawainya (halaman 9-10).

Dua tahun hidup dalam kemalangan, harapan baru itu menyapa. Kabarnya, salah satu kapal beserta barang dagangan milik Saudagar merapat dengan selamat di pelabuhan. Namun naas, yang terjadi setelahnya malah jauh dari harapan. Para mitra yang mengira dirinya telah meninggal dunia, membagi-bagikan isi muatan kapal (halaman 20).

Tak mendapat hasil apa-apa, ia pun memutuskan untuk kembali. Pada perjalanan pulang inilah sang Saudagar bertemu dengan sosok Beast. Ia singgah sejenak di istana milik sang monster, beristirahat dan menyantap makanan di sana, lalu tanpa izin memetik sekuntum mawar di lorong istana untuk memenuhi janjinya pada Belle. Hal ini yang kemudian memicu kemarahan Beast. Hingga sebuah kesepakatan pun terjadi. Saudagar itu akan terbebas dari kematian apabila ia menyerahkan salah seorang putrinya sebagai penebus kelancangannya.

Setiba sang Saudagar ke rumah, ia menceritakan segala hal yang menimpanya. Termasuk pertemuan dan perjanjian gila bersama Beast. Mendengar kabar buruk yang dituturkan sang ayah, tak satu pun dari saudari-saudari Belle yang sudi melakukan pengorbanan mulia itu. Mereka merasa Belle-lah yang paling layak bertanggungjawab atas apa yang menimpa ayahnya. Terlebih selama ini mereka menyimpan kecemburuan pada gadis itu. Ya, Belle dengan kecantikan dan kebaikan hatinya memang membuatnya lebih menonjol dan disukai siapa saja.

Belle pun setuju. Ia mengakui bahwa dirinyalah penyebab malapetaka ini. Tidak adil bila saudaranya harus menderita karena kesalahannya. Permintaan Belle kala itu memang tampak sepele, hanya minta dibawakan mawar pada musim panas. Siapa yang menduga kalau ia mesti mendapat hukuman begitu kejam? (halaman 41).

Membayangkan hidup bersama sesosok monster tentu terasa mengerikan. Namun Belle berhasil melaluinya. Banyak hal tidak terduga yang ia alami. Termasuk menyadari bahwa Beast tidaklah semengerikan yang terlihat. Ia berhati lembut dan sangat sopan terhadap Belle. Hingga di suatu malam dan malam berikutnya Belle bermimpi bertemu pemuda tampan. Ia mulai bertanya-tanya, mungkinkah pemuda itu juga tawanan Beast, sama seperti dirinya?

Sebagaimana dongeng pada umumnya, kisah ini memberikan pelajaran berharga bagi pembaca. Lewat tokoh Belle, pembaca akan semakin sadar betapa pentingnya berbakti kepada orangtua, juga kerelaan untuk berkorban demi orang yang disayangi. Belle bukan hanya cantik secara fisik, tetapi juga memiliki hati yang sangat mulia. Sungguh tak akan merugi seseorang yang berbudi baik seperti itu, sebab akhirnya kebaikan akan membawa seseorang pada kebahagiaan tak terhingga.[]

(Pernah dimuat di harian Radar Sampit pada Minggu, 2 Juli 2017)

Selasa, 25 Juli 2017

Resensi: Pencarian Jati Diri Sang Gadis Tembakau


Judul Buku: Genduk
Penulis: Sundari Mardjuki
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Agustus 2016
Tebal Buku: 232 halaman
ISBN: 978-602-03-3219-2

Sebuah novel bergaya memoar ini, disusun oleh Sundari Mardjuki berdasarkan hasil riset mendalam mengenai keluarga petani tembakau di desa Temanggung, Jawa Tengah, disertai tradisi masyarakatnya di era 70-an. Tokoh utama-lah yang nanti membawa pembaca pada kisah berharga, memetik hikmah dari fase hidup yang berhasil dilalui sebagai "gadis tembakau".

Gadis muda yang lebih akrab disapa Genduk, lahir dalam keluarga dan lingkungan petani di lereng Gunung Sindoro, Desa Ringinsari, Temanggung. Dibesarkan seorang diri oleh Yung (ibu) yang berwatak dingin dan keras, tanpa sosok Pak'e (bapak) di sisinya.

Genduk tidak pernah tahu seperti apa rupa bapaknya, namun ia bisa membayangkannya berkat penuturan Kaji Bawon, bahwa Pak'e memiliki perawakan tinggi dan gagah. Kulit bersih, tangannya halus, sehalus tutur katanya. Berbeda dengan Yung yang bertulang pipi tinggi dan menonjol,  terbalut bercak kehitaman akibat dijerang sinar matahari gunung (halaman 18-19).

Kala itu, Desa Ringinsari sedang musim tembakau. Segala yang dimiliki petani dipertaruhkan karena jenis tanaman ini telah menguji nyali petani sejak awal ladang dipaculi, ditanami, hingga masa panen. Selain butuh pupuk, benih yang ditanam harus ekstra dijaga dari gulma. Bila bibit mati, maka harus segera diganti dengan bibit baru (halaman 23).

Pupuk dan stok bibit yang memadai memerlukan biaya yang banyak. Itu berarti siapa punya banyak uang, dia yang akan bertahan. Sementara mereka yang keuangannya sulit, ketar-ketir. Tak ada jalan kecuali meminjam uang orang lain bahkan lari ke rentenir. Bila hasil penjualan tembakau baik, hutang bisa tertutupi. Sebaliknya, bila harga tembakau anjlok, petani akan semakin sulit karena terlilit hutang.

Tradisi. Seperti yang telah disebutkan di awal, bahwa penulis juga mengangkat adat kebiasaan turun-temurun masyarakat Jawa. Di awal musim memanam tembakau (hari wiwitan), penduduk sekitar lereng Sindoro melakukan ritual Among Tebal, tradisi memohon pada Gusti Allah agar panen melimpah.

Berarak menuju mata air Tuksari, semua orang berkumpul membawa aneka tumpeng: tumpeng putih, tumpeng kuning, dan tumpeng hitam. Ada ingkung ayam kampung, irisan telur dadar, buah-buahan, dan jajanan pasar (halaman 46-47).

Waktu terus melaju. Tumbuhan tembakau mulai kuat. Batangnya semakin besar dan kokoh. Setiap lembar daunnya adalah harta yang tidak ternilai, yang menjadi penentu hidup petani selanjutnya. Sembilan bulan hidup dalam keprihatinan akan ditentukan nasibnya dalam tiga bulan ke depan. Apakah daun-daun itu akan memberi laba atau justru malapetaka (halaman 66).

Pada masa panenlah para gaok/tengkulak melancarkan aksinya. Mempermainkan harga tembakau, mengakali petani, hingga Genduk terpaksa berurusan dengan gaok licik bernama Kaduk demi menyelamatkan penjualan tembakau ibunya.

Konflik semakin menderas, tak terbendung. Banyak fakta dan kejadian pahit yang mesti ia hadapi. Termasuk permasalahan petani yang memuncak ketika salah seorang warga bunuh diri karena tak kuat dipermainkan gaok. Dibarengi dengan upaya mencari jejak bapaknya, serta masalah demi masalah yang mesti ia selesaikan, di sinilah karakter Genduk semakin terbentuk.

Secara keseluruhan, tokoh Genduk mewakili sosok perempuan belia tangguh, cerdas, dan tanggap yang tidak hanya mampu membawa pengaruh besar bagi keluarga, namun juga lingkungannya. Keteguhan hati serta keberaniannya dalam mengambil sikap membawa warga pada keadilan yang pantas mereka dapat. Memberi pelajaran bahwa seseorang tumbuh bukan sekadar untuk mengejar pengakuan, namun mencari keadilan, kebenaran, yang bahkan di era saat ini makin abu-abu.[]
***

(Pernah dimuat di Harian Singgalang, Padang, pada 2 April 2017)

Kamis, 18 Mei 2017

Resensi: Belajar dari Para Miliarder dalam Melejitkan Produktivitas

Judul: 77 Mantra Meningkatkan Produktivitas Diri Ala Miliarder 
Penulis: Erlita Pratiwi
Penerbit: Grasindo
Cetakan: I, Juni 2016
Tebal Buku: 336 halaman
ISBN: 9786023755233

Produktivitas sebagai bagian dari kualitas diri. Yakni kemampuan dalam meraup hasil dari apa yang diusahakan hingga mencapai target. Bukan sebanyak apa yang bisa dikerjakan, tetapi keefektifan dalam bertindak yang mengacu pada hasil maksimal. Bicara mengenai produktivitas, ada banyak kebiasaan yang bisa ditiru dari para miliarder dunia dalam "77 Mantra Meningkatkan Produktivitas Diri Ala Miliarder". Akan ditemukan pula beragam tips dan cara penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan buku, untuk bisa produktif jam kerja harus benar-benar digunakan untuk bekerja. Agar waktu tidak terbuang sia-sia dan semua pekerjaan bisa selesai dengan baik. Boleh saja berleha-leha namun tentunya dilakukan setelah tugas usai (halaman 10). Artinya, kedisiplinan dalam pengaturan waktu sangat berpengaruh terhadap kinerja seseorang. Semakin disiplin, makin baik pula hasilnya.

Dalam bidang apa pun, tutur penulis, disiplin waktu merupakan modal utama bila ingin produktif. Maka buatlah jadwal kegiatan dan laksanakan dengan penuh disiplin. Dengan begitu, tidak ada waktu yang terbuang percuma. Ini rahasia utama kesuksesan Oprah Winfrey, wanita pertama yang memiliki talk show  sendiri hingga dinobatkan sebagai salah satu dari 100 orang paling berpengaruh di abad 20 oleh Majalah  Time. Tidak hanya sampai di situ, setelahnya Oprah Winfrey juga memproduksi mini seri televisi dan menerbitkan dua majalah. Berkat usahanya, ia pun berhasil menempati posisi sebagai wanita pertama Amerika-Afrika yang menjadi miliarder (halaman 42-43).

Tetapkan satu waktu untuk satu pekerjaan. Tuntaskan satu, lalu berlanjut ke pekerjaan lainnya secara tertahap. Agar fokus lebih terjaga karena pikiran tidak bercabang-cabang. Ini penting untuk diterapkan bila ingin meniru kebiasaan Steve Jobs, yang semasa hidupnya sempat menjabat sebagai CEO Apple dan dikenal dengan produk unggulan rancangannya: iPhone.

Menurut Steve Jobs, multitasking justru membunuh produktivitas. Karena dengan melakukan banyak hal secara bersamaan, seseorang tidak dapat memberikan perhatian yang dibutuhkan pada semua hal. Itu berdampak pada kualitas pekerjaan (halaman 120). Multitasking baru akan berhasil bila kedua pekerjaan menggunakan bagian otak yang berbeda. Misalnya membaca sambil mendengarkan musik instrumental.

Tips berikutnya yang bisa dijadikan alternatif datang dari Fred Mouawad, yaitu dengan membuat skala prioritas tentang kepentingan pekerjaan dan kepentingan pribadi. Pola hidup seimbang ini membuatnya lebih produktif karena ia bisa mengurus perusahaan tanpa kehilangan quality time  bersama keluarga. Fred Mouawad berhasil memiliki kekayaan US$ 1,1 miliar dan pernah dinobatkan sebagai kolektor berlian termahal dunia.

Miliarder lain yakni Will Smith, aktor asal Amerika peraih Academy Award dan Grammy Award yang sukses di bidang film, televisi, dan industri musik Amerika menuturkan, "Jangan katakan kepada diri sendiri bahwa Anda akan membuat dinding terbesar yang pernah dibuat. Letakkan satu bata pada suatu waktu sesempurna mungkin. Lakukan itu setiap hari, dan segera Anda akan memiliki dinding."
Maksudnya, jangan terpaku untuk menjadi seseorang yang hebat, tetapi fokuslah untuk berbuat yang terbaik hingga suatu saat nanti Anda menjadi hebat (halaman 208).

Ubah cara pandang terhadap kesuksesan agar tidak terlalu terpuruk bila gagal. Lakukan saja pekerjaan secara benar, maksimal, dan penuh rasa tanggung jawab maka kelak kesuksesan akan berada dalam genggaman.

Dari 77 mantra yang terangkum di dalam buku ini, hal terpenting yang mesti dilakukan adalah niat dan upaya untuk memulai. Setelahnya tingkatkan sistem kerja dengan terus mengasah kemampuan secara berkesinambungan. Cari dan serap lebih banyak lagi pengetahuan yang berhubungan dengan bidang yang dijalani.[]

(Pernah dimuat di Koran Jakarta, 8 November 2016)

Selasa, 16 Mei 2017

Resensi: Investigasi terhadap Fenomena Supranatural


Judul Buku: The Haunting of Hill House
Penulis: Shirley Jackson
Penerbit: Qanita, Mizan Group
Cetakan: I, Januari 2017
Tebal Buku: 376 halaman
ISBN: 978-602-402-056-9

Pada umumnya, kisah horor biasa disuguhkan dengan latar suasana mencekam, disertai kemunculan makhluk halus yang digambarkan sebagai sosok menyeramkan.

Namun berbeda dengan novel karangan Shirley Jackson ini. Salah satu karya horor terbaik di abad 20-an, yang telah menginspirasi banyak penulis besar seperti Stephen King, justru menyajikan kisah hantu-hantu tak kasatmata. Sisi horor pendukungnya terletak pada bangunan yang entah sengaja atau tidak, dirancang sedemikian ganjil. Serta daftar tragedi yang cukup panjang terhubung dengannya.

Rumah tanpa kebaikan, tak pernah dimaksudkan untuk ditinggali, tidak sesuai untuk manusia, untuk cinta atau membawa suatu harapan (halaman 53-54).

Hill House, begitu orang-orang menyebutnya. Merupakan rumah yang dibangun di area perbukitan, terpencil, jauh dari keramaian. Tempat yang semestinya menjadi pengayom, memberi ketenangan bagi semua penghuni, justru menjadi awal dari keputusasaan. Telah banyak kejadian tak menyenangkan yang terjadi di sana. Dr. Montague, seorang doktor ilmu filsafat justru tertarik pada rumor-rumor mengerikan mengenai Hill House guna melakukan penelitian tentang aktivitas supernatural.

Ia memutuskan menyewa Hill House untuk tiga bulan, sepanjang musim panas. Ditemani tiga orang asisten: Eleanor, Theodora, dan Luke yang bahkan tidak tahu untuk alasan apa mereka harus berada di tempat itu.

Setelah menjelaskan tujuannya mengundang ketiga orang itu, Dr. Montague mulai menceritakan sejarah Hill House. Ia menjelaskan, bahwa rumah itu dibangun sekitar delapan puluh tahun silam oleh pria bernama Hugh Crain untuk keluarganya. Ia berharap kelak bisa menjalani hari tua bersama anak-cucu dalam kemewahan yang nyaman dan tenang. Malangnya, kereta kuda yang membawa istri Hugh Crain ke tempat itu terguling di jalan masuk. Sang istri meninggal di tempat, kemudian dibawa ke rumah yang didirikan sang suami untuknya. Rumah yang bahkan belum sempat ia lihat (halaman 113).

Pria malang itu ditinggal mati sang istri dengan dua anak perempuan yang masih kecil-kecil. Hugh Crain sempat menikah lagi dan kembali ia harus merasakan kegetiran yang sama. Istri kedua meninggal karena terjatuh, sedangkan istri ketiga meninggal karena penyakit paru. Hugh meninggal dunia tak lama setelah istrinya tiada, dan Hill House menjadi rebutan kedua putrinya.

Si bungsu menikah, dan konon membuat putri pertama patah hati lalu memutuskan hidup sendirian di Hill House. Setelah beberapa tahun berada dalam pengasingan, ia mengajak seorang gadis desa untuk tinggal bersama sebagai pendamping. Meski begitu, kedua kakak beradik itu masih terus bertengkar mengenai rumah ini. Hingga di suatu hari, sang kakak meninggal dunia akibat penyakit pneumonia (halaman 116-117).

Gadis pendamping berkeras bahwa rumah itu diwariskan untuknya, tapi adik dan suaminya bersikukuh bahwa rumah itu secara sah milik mereka dan menuduh si pendamping telah memperdaya kakaknya. Tidak hanya sampai di situ, ia terus melontarkan tudingan kejam, surat-surat berisi ancaman, kampanye kebencian yang membuat warga desa jatuh iba padanya dan sebaliknya, mengucilkan gadis pendamping. Hingga gadis malang itu tak tahan lagi dan memutuskan bunuh diri. Ia menggantung diri di bagian kubah menara Hill House.

Seperti yang telah disebutkan di awal, bahwa Hill House bukan hanya dikenal dengan sejarah tragedinya, namun gaya konstruksi bangunan yang memang tidak lazim.  Salah satunya, pintu-pintu yang selalu tertutup dengan sendirinya meski telah dibuka lebar-lebar dan diganjal. Ada pula satu ruangan yang di ambang pintunya memiliki titik dingin, yang apabila dilalui seperti melewati dinding es tak kasatmata.

Selama di sanalah, gangguan demi gangguan terus dirasakan oleh Dr. Montague beserta ketiga asistennya. Mulai dari suara langkah kaki di koridor, hawa dingin yang menggigit, coretan darah pada dinding, ketukan-ketukan di pintu dan kenop yang diputar, suara cekikikan, juga bisikan-bisikan. Ketika keadaan mulai di luar kendali, Dr. Montague dituntut untuk bertindak cepat bila tidak ingin korban nyawa berjatuhan.

Yang menarik dari novel ini, adalah cara penulis dalam mendeskripsikan arsitektur bangunan yang ganjil secara terperinci. Ditambah aktivitas makhluk gaib tak berwujud, yang mengundang rasa ingin tahu sekaligus membuat ngeri.
Tidak berlebihan. Komposisi yang pas untuk sebuah novel horor. Belum lagi akhir cerita yang tak diduga-duga.[]

(Pernah dimuat di koran Radar Sampit edisi 14 Mei 2017)

Selasa, 10 Januari 2017

Resensi: Bangkit Setelah Patah Hati


Judul: Ubah Patah Hati Jadi Prestasi
Penulis: Dwi Suwiknyo
Penerbit: Quanta
Cetakan: I, Oktober 2016
Tebal Buku: 280 halaman
ISBN: 978-602-02-9393-6

Patah hati bisa berdampak pada menurunnya semangat untuk bergerak hingga mengurangi produktivitas seseorang. Kondisi hati yang dilanda kegundahan, tidak tenang, membuat pekerjaan dan kegiatan lain menjadi terganggu. Wajar bila manusia bersedih hati akibat situasi yang tidak diinginkan, tetapi ada yang jauh lebih penting dari itu, yakni bagaimana cara kita menjadikan patah hati sebagai awal dari menggapai prestasi.

Bukan hanya lantaran putus cinta, hinaan, dianggap remeh oleh orang lain juga bisa mematahkan hati seseorang. Tetapi bagaimana bisa maju kalau terus-terusan terpuruk pada masa lalu atau hal-hal yang tidak menyenangkan? Sementara masa depan sudah harus dirancang dan diperjuangkan.

Melalui bukunya, Dwi Suwiknyo menawarkan beragam solusi untuk si patah hati lewat uraian, kiat, serta kisah-kisah inspiratif. Kisah, yang akan membawa pembacanya terpacu untuk menjadi pribadi yang berprestasi. Contohnya saja, kisah salah satu artis Hong Kong terkaya, Chow Yun Fat. Siapa yang mengira bahwa di masa lalunya ia seorang bell boy  di sebuah hotel.

Ketika itu, Chow Yun Fat diminta untuk mencuci mobil mewah tamunya. Namun, ia malah dihina dan dimaki oleh sang atasan karena mencoba masuk ke mobil mewah itu dan berlagak menyetir. Ia hanya tersenyum, tidak membantah, dan malah menjadikan hinaan itu sebagai bahan  bakar untuk terus bekerja keras. Kini, ia telah mengoleksi puluhan mobil serta rumah mewah (halaman 31-32). Ini yang mesti kita contoh. Kesanggupan mengubah hinaan menjadi prestasi.

Lalu kisah seorang Jack Ma, miliarder kelas dunia yang dulunya begitu akrab dengan kegagalan dan penolakan. Ditolak tiga universitas, 30 tempat kerja, sempat membuatnya putus asa. Namun kebutuhan biaya hidup mendesaknya untuk terus bekerja. Dimulai dari bisnis kecil-kecilan yang bahkan dianggap ide bodoh oleh banyak orang. Di tahun-tahun berikutnya ia dinobatkan sebagai orang terkaya di China (halaman 33). Temukan pula kisah inspiratif lainnya yang penulis suguhkan dalam lembaran-lembaran bukunya.

Untuk mencapai sukses dan berprestasi memang tidak mudah. Ada fase tertentu yang mesti dilalui sebelum kesuksesan itu berhasil diraih. Perjuangan tanpa henti. Juga upaya untuk tidak mudah goyah karena suara-suara sumbang yang tidak jarang membuat ciut nyali.

Sebab kondisi mental yang mudah goyah dan rapuh bisa membuat lemah dan berat dalam menjalani hidup. Oleh karenanya, ada tahapan yang mesti dilakukan untuk menyehatkan mental. Yaitu dengan mengenal dan berani mengambil risiko. Sebelum bertindak, pastikan kita telah punya gambaran mengenai keuntungan dan akibat-akibat lainnya. Pahami pula perbedaan mendasar antara nasib dan takdir (halaman 47-48). Tahapan selanjutnya, bisa disimak dalam buku ini dengan lebih lengkap.

Selain pembahasan di atas, buku ini juga memuat lembar renungan di tiap akhir babnya. Di bab tertentu bahkan tersedia daftar pertanyaan untuk mengukur kualitas mental, mengecek potensi kecerdasan, hingga tes semangat juang.

Bacaan yang komplit, menarik, serta syarat perenungan ini cocok dibaca bagi remaja dan dewasa. Terutama untuk pribadi yang sedang patah hati agar segera memperoleh semangat baru demi menyongsong hari esok yang lebih baik. Membangun kepercayaan diri, tidak larut dalam kesedihan masa lalu, terus menggali potensi yang dimiliki, dan bermental tangguh adalah poin-poin  penting dalam buku ini yang sepatutnya bisa kita terapkan.[]
***

(Pernah dimuat di Kabar Madura, 5 Januari 2017)

Jumat, 30 Desember 2016

Resensi: Bijak dalam Mengelola Cinta

Judul Buku: Bingkai Kasih Khazanah Jiwa
Penulis: Kazuhana El Ratna Mida
Penerbit: Quanta
Cetakan: I, September 2016
Tebal Buku: 132 halaman
ISBN: 978-602-02-9217-5

Pada hakikatnya, cinta merupakan anugerah Tuhan yang bersifat fitrah. Sebentuk rasa yang akan membawa pemiliknya pada ketentraman batin dan kebaikan hidup jika dikelola dengan cara yang benar. Menjadikan cinta tetap terjaga dan terealisasikan sesuai aturan agama.
Bingkai Kasih Khazanah Jiwa, hadir di tengah maraknya golongan muda-mudi yang gemar mengumbar perasaan dan memuja cinta. Kurangnya ilmu, hingga terkadang membuat cinta menjadi salah arah, lalu membutakan mata hati, dan berakhir dengan penyesalan. Buku yang akan mengajak pembacanya untuk lebih cerdas dan bijak dalam me-manage hati. Agar nantinya perasaan tersebut berbuah keberkahan. Esensi dari buku ini, ialah cinta dalam sudut pandang Islam.

Pada bab Cinta Sebagai Anugerah, penulis mengungkapkan bahwa sejatinya, cinta  akan membuat si pencinta  menjadi lebih menghargai hidup. Hidup pun menjadi lebih semangat dan berwarna. Sedangkan cinta yang membuat merana, sedih, dan nelangsa adalah cinta yang berada dalam jalan yang salah (halaman 11). Bila rasa itu hanya berdampak pada kerisauan, kesedihan yang berlarut, segeralah perbaiki niat dan mohon petunjuk-Nya.

Cinta bisa hadir kapan dan di mana saja. Tidak bisa diprediksi, namun bisa dideteksi. Biasanya diawali dengan pandangan mata. Ketertarikan fisik, atau bisa juga karena baiknya kepribadian seseorang. Kenali pula ciri-ciri orang yang sedang jatuh cinta, di antaranya: suka memandang orang yang dicintai, malu bahkan salah tingkah jika orang yang dicintai menemuinya, banyak membicarakan dan menyebutkan orang yang dicintai, selalu ingin dekat dengan orang yang dicintai, dan beberapa ciri lain yang dikupas dalam buku ini.

Setelah mengenal cirinya, dan mungkin saja ciri tersebut ada pada diri, sebagai seorang muslim ada baiknya untuk menggali lebih jauh pengetahuan tentang batasan-batasan apa yang harus dipahami perihal mencintai.

Jangan jadi buta karena cinta. Deteksi dengan segera agar tidak salah bertindak. Sebab bila dibiarkan dan tumbuh mengakar tanpa ada pegangan yang kuat, bisa menjadi bencana. Bahkan sumber dosa bila tidak mengarah pada kebaikan dan keridaan-Nya (halaman 26-27). Pahami dampak negatif yang ditimbulkan akibat cinta buta yang sudah jelas merugikan.

Imam Al-Ghazali berpendapat, bahwa cinta tak akan tercapai kecuali dengan pemahaman (makrifat). Sementara itu, pemahaman tidak akan tercapai melainkan dengan pemaknaan (tafakur). Pemaknaan dan pemahaman akan cinta, nantinya bermuara pada satu tujuan yakni surga. Maka sudah selayaknya manusia mencintai sesamanya karena Allah (halaman 57).

Di bab lainnya, juga dijelaskan mengenai jenis-jenis cinta, cara me-manage cinta agar berbuah berkah, kemudian membingkainya dengan khazanah jiwa yang membuat hati tentram dan penuh suka cita.

Penuturannya yang santai,  berhikmah, dan berisikan uraian-uraian mencerahkan menjadikan buku ini layak untuk disimak. Beragam tips yang terangkum di dalamnya bisa menjadi solusi dalam menghadapi beragam persoalan tentang cinta, bagaimana membangun fondasi keimanan lebih kokoh agar tidak mudah terjerumus pada kesalahan dalam pemaknaan cinta, yang tentunya bermanfaat untuk pembentukan karakter yang lebih unggul.[]

(Pernah dimuat di Kabar Madura, 20 Desember 2016)

Rabu, 23 November 2016

Resensi: Menjaga Ikrar Suci Pernikahan

Judul: The Unbroken Vow
Penulis: Kezia Evi Wiadji
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Agustus 2015
Tebal Buku: 232 halaman
ISBN: 978-602-03-1963-6

Pernikahan bukan hanya perjanjian suci yang terjalin antara individu dengan pasangannya, melainkan juga ikrar langsung pada Tuhan. Karenanya, sudah sepantasnya hubungan tersebut dijaga agar tetap utuh meski guncangan dalam kehidupan rumah tangga bisa menyapa kapan saja.  Kesibukan pasangan, ketidakcocokan dan perbedaan cara pandang, lahirnya keegoisan, hingga hadirnya orang ketiga sangat memungkinkan menjadi alasan goyahnya suatu hubungan yang semula nampak baik-baik saja.

Kezia Evi Wiadji dengan novelnya The Unbroken Vow, mengambil tema kehidupan dan permasalahan rumah tangga yang akan membawa pembaca pada titik perenungan. Memaknai lebih dalam terkait janji suci pernikahan. Mengisahkan tentang kehidupan sempurna Ivy sebagai ibu muda dengan karier yang cemerlang, didampingi oleh lelaki terkasihnya bernama Ethan, serta buah hati mereka yang menggemaskan dan baru menginjak usia TK, Cindy.

Semula, semua nampak normal dan baik-baik saja. Cindy pun tumbuh sebagai peri kecil yang lucu dan ceria. Namun hadirnya sosok Sally sebagai orang ketiga di tengah kehidupan tenang mereka jelas membuat Ivy geram. Rasa sakit hati dan kepedihan menikam jantungnya. Ia secara gamblang menolak kedekatan lelakinya dengan Sally. Lebih-lebih, wanita itu adalah guru putrinya di sekolah (halaman 69-70).

Sally tak hanya berhasil mencuri perhatian Ethan, tapi juga Cindy. Mau tak mau Ivy harus berusaha mengontrol emosi bila mendapati Cindy berceloteh tentang Sally yang baik hati, yang suka membawakan makanan lucu dan enak, pintar menggambar, dan sejuta hal lain tentang kebaikannya (halaman 83).
Di tengah kerisauan yang membelit hati Ivy, sosok Max hadir sebagai penawar kegelisahannya. Meski perkenalan mereka diawali dengan insiden yang tak mengenakan. Kala itu mobil yang ditumpangi Ivy dan Cindy dikempung oleh empat orang preman. Karena panik, Ivy dengan sengaja menabrakan mobilnya dengan mobil Max yang berada di depannya.

Setelah mengatur pertemuan dengan alasan meminta uang ganti rugi atas kerusakan mobil, Max justru mulai menunjukkan ketertarikannya pada Ivy. Ia juga nampak begitu menyayangi Cindy. Belum lagi perhatiannya terhadap wanita itu ketika teror masa lalu kembali menghantui Ivy.

Novel dengan alur maju-mundur ini cukup membius pembaca untuk terus mengikuti kisahnya sampai akhir. Plot tidak terduga yang disuguhkan membawa daya kejut tersendiri. Banyak rahasia yang disembunyikan penulis dengan demikian rapi, kemudian dibuka satu demi satu hingga menimbulkan letupan-letupan mengejutkan.

Inspiratif dan berkesan. Banyak pesan tersirat yang penulis sisipkan dalam novel ini. Meski temanya agak berat, namun pesannya tersampaikan dengan cukup baik. Mengenai gambaran kehidupan rumah tangga yang memang tidak terlepas dari beragam permasalahan serta akibat yang ditimbulkan karena kesalahan pengambilan keputusan. Tentang penyesalan, alasan untuk bertahan, kesempatan kedua, yang menjadi bumbu dalam hubungan dua insan yang saling menerima dan mengasihi.[]

(Pernah dimuat di Kabar Madura, 14 November 2016)