Kamis, 18 Mei 2017

Resensi: Belajar dari Para Miliarder dalam Melejitkan Produktivitas

Judul: 77 Mantra Meningkatkan Produktivitas Diri Ala Miliarder 
Penulis: Erlita Pratiwi
Penerbit: Grasindo
Cetakan: I, Juni 2016
Tebal Buku: 336 halaman
ISBN: 9786023755233

Produktivitas sebagai bagian dari kualitas diri. Yakni kemampuan dalam meraup hasil dari apa yang diusahakan hingga mencapai target. Bukan sebanyak apa yang bisa dikerjakan, tetapi keefektifan dalam bertindak yang mengacu pada hasil maksimal. Bicara mengenai produktivitas, ada banyak kebiasaan yang bisa ditiru dari para miliarder dunia dalam "77 Mantra Meningkatkan Produktivitas Diri Ala Miliarder". Akan ditemukan pula beragam tips dan cara penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan buku, untuk bisa produktif jam kerja harus benar-benar digunakan untuk bekerja. Agar waktu tidak terbuang sia-sia dan semua pekerjaan bisa selesai dengan baik. Boleh saja berleha-leha namun tentunya dilakukan setelah tugas usai (halaman 10). Artinya, kedisiplinan dalam pengaturan waktu sangat berpengaruh terhadap kinerja seseorang. Semakin disiplin, makin baik pula hasilnya.

Dalam bidang apa pun, tutur penulis, disiplin waktu merupakan modal utama bila ingin produktif. Maka buatlah jadwal kegiatan dan laksanakan dengan penuh disiplin. Dengan begitu, tidak ada waktu yang terbuang percuma. Ini rahasia utama kesuksesan Oprah Winfrey, wanita pertama yang memiliki talk show  sendiri hingga dinobatkan sebagai salah satu dari 100 orang paling berpengaruh di abad 20 oleh Majalah  Time. Tidak hanya sampai di situ, setelahnya Oprah Winfrey juga memproduksi mini seri televisi dan menerbitkan dua majalah. Berkat usahanya, ia pun berhasil menempati posisi sebagai wanita pertama Amerika-Afrika yang menjadi miliarder (halaman 42-43).

Tetapkan satu waktu untuk satu pekerjaan. Tuntaskan satu, lalu berlanjut ke pekerjaan lainnya secara tertahap. Agar fokus lebih terjaga karena pikiran tidak bercabang-cabang. Ini penting untuk diterapkan bila ingin meniru kebiasaan Steve Jobs, yang semasa hidupnya sempat menjabat sebagai CEO Apple dan dikenal dengan produk unggulan rancangannya: iPhone.

Menurut Steve Jobs, multitasking justru membunuh produktivitas. Karena dengan melakukan banyak hal secara bersamaan, seseorang tidak dapat memberikan perhatian yang dibutuhkan pada semua hal. Itu berdampak pada kualitas pekerjaan (halaman 120). Multitasking baru akan berhasil bila kedua pekerjaan menggunakan bagian otak yang berbeda. Misalnya membaca sambil mendengarkan musik instrumental.

Tips berikutnya yang bisa dijadikan alternatif datang dari Fred Mouawad, yaitu dengan membuat skala prioritas tentang kepentingan pekerjaan dan kepentingan pribadi. Pola hidup seimbang ini membuatnya lebih produktif karena ia bisa mengurus perusahaan tanpa kehilangan quality time  bersama keluarga. Fred Mouawad berhasil memiliki kekayaan US$ 1,1 miliar dan pernah dinobatkan sebagai kolektor berlian termahal dunia.

Miliarder lain yakni Will Smith, aktor asal Amerika peraih Academy Award dan Grammy Award yang sukses di bidang film, televisi, dan industri musik Amerika menuturkan, "Jangan katakan kepada diri sendiri bahwa Anda akan membuat dinding terbesar yang pernah dibuat. Letakkan satu bata pada suatu waktu sesempurna mungkin. Lakukan itu setiap hari, dan segera Anda akan memiliki dinding."
Maksudnya, jangan terpaku untuk menjadi seseorang yang hebat, tetapi fokuslah untuk berbuat yang terbaik hingga suatu saat nanti Anda menjadi hebat (halaman 208).

Ubah cara pandang terhadap kesuksesan agar tidak terlalu terpuruk bila gagal. Lakukan saja pekerjaan secara benar, maksimal, dan penuh rasa tanggung jawab maka kelak kesuksesan akan berada dalam genggaman.

Dari 77 mantra yang terangkum di dalam buku ini, hal terpenting yang mesti dilakukan adalah niat dan upaya untuk memulai. Setelahnya tingkatkan sistem kerja dengan terus mengasah kemampuan secara berkesinambungan. Cari dan serap lebih banyak lagi pengetahuan yang berhubungan dengan bidang yang dijalani.[]

(Pernah dimuat di Koran Jakarta, 8 November 2016)

Selasa, 16 Mei 2017

Resensi: Investigasi terhadap Fenomena Supranatural


Judul Buku: The Haunting of Hill House
Penulis: Shirley Jackson
Penerbit: Qanita, Mizan Group
Cetakan: I, Januari 2017
Tebal Buku: 376 halaman
ISBN: 978-602-402-056-9

Pada umumnya, kisah horor biasa disuguhkan dengan latar suasana mencekam, disertai kemunculan makhluk halus yang digambarkan sebagai sosok menyeramkan.

Namun berbeda dengan novel karangan Shirley Jackson ini. Salah satu karya horor terbaik di abad 20-an, yang telah menginspirasi banyak penulis besar seperti Stephen King, justru menyajikan kisah hantu-hantu tak kasatmata. Sisi horor pendukungnya terletak pada bangunan yang entah sengaja atau tidak, dirancang sedemikian ganjil. Serta daftar tragedi yang cukup panjang terhubung dengannya.

Rumah tanpa kebaikan, tak pernah dimaksudkan untuk ditinggali, tidak sesuai untuk manusia, untuk cinta atau membawa suatu harapan (halaman 53-54).

Hill House, begitu orang-orang menyebutnya. Merupakan rumah yang dibangun di area perbukitan, terpencil, jauh dari keramaian. Tempat yang semestinya menjadi pengayom, memberi ketenangan bagi semua penghuni, justru menjadi awal dari keputusasaan. Telah banyak kejadian tak menyenangkan yang terjadi di sana. Dr. Montague, seorang doktor ilmu filsafat justru tertarik pada rumor-rumor mengerikan mengenai Hill House guna melakukan penelitian tentang aktivitas supernatural.

Ia memutuskan menyewa Hill House untuk tiga bulan, sepanjang musim panas. Ditemani tiga orang asisten: Eleanor, Theodora, dan Luke yang bahkan tidak tahu untuk alasan apa mereka harus berada di tempat itu.

Setelah menjelaskan tujuannya mengundang ketiga orang itu, Dr. Montague mulai menceritakan sejarah Hill House. Ia menjelaskan, bahwa rumah itu dibangun sekitar delapan puluh tahun silam oleh pria bernama Hugh Crain untuk keluarganya. Ia berharap kelak bisa menjalani hari tua bersama anak-cucu dalam kemewahan yang nyaman dan tenang. Malangnya, kereta kuda yang membawa istri Hugh Crain ke tempat itu terguling di jalan masuk. Sang istri meninggal di tempat, kemudian dibawa ke rumah yang didirikan sang suami untuknya. Rumah yang bahkan belum sempat ia lihat (halaman 113).

Pria malang itu ditinggal mati sang istri dengan dua anak perempuan yang masih kecil-kecil. Hugh Crain sempat menikah lagi dan kembali ia harus merasakan kegetiran yang sama. Istri kedua meninggal karena terjatuh, sedangkan istri ketiga meninggal karena penyakit paru. Hugh meninggal dunia tak lama setelah istrinya tiada, dan Hill House menjadi rebutan kedua putrinya.

Si bungsu menikah, dan konon membuat putri pertama patah hati lalu memutuskan hidup sendirian di Hill House. Setelah beberapa tahun berada dalam pengasingan, ia mengajak seorang gadis desa untuk tinggal bersama sebagai pendamping. Meski begitu, kedua kakak beradik itu masih terus bertengkar mengenai rumah ini. Hingga di suatu hari, sang kakak meninggal dunia akibat penyakit pneumonia (halaman 116-117).

Gadis pendamping berkeras bahwa rumah itu diwariskan untuknya, tapi adik dan suaminya bersikukuh bahwa rumah itu secara sah milik mereka dan menuduh si pendamping telah memperdaya kakaknya. Tidak hanya sampai di situ, ia terus melontarkan tudingan kejam, surat-surat berisi ancaman, kampanye kebencian yang membuat warga desa jatuh iba padanya dan sebaliknya, mengucilkan gadis pendamping. Hingga gadis malang itu tak tahan lagi dan memutuskan bunuh diri. Ia menggantung diri di bagian kubah menara Hill House.

Seperti yang telah disebutkan di awal, bahwa Hill House bukan hanya dikenal dengan sejarah tragedinya, namun gaya konstruksi bangunan yang memang tidak lazim.  Salah satunya, pintu-pintu yang selalu tertutup dengan sendirinya meski telah dibuka lebar-lebar dan diganjal. Ada pula satu ruangan yang di ambang pintunya memiliki titik dingin, yang apabila dilalui seperti melewati dinding es tak kasatmata.

Selama di sanalah, gangguan demi gangguan terus dirasakan oleh Dr. Montague beserta ketiga asistennya. Mulai dari suara langkah kaki di koridor, hawa dingin yang menggigit, coretan darah pada dinding, ketukan-ketukan di pintu dan kenop yang diputar, suara cekikikan, juga bisikan-bisikan. Ketika keadaan mulai di luar kendali, Dr. Montague dituntut untuk bertindak cepat bila tidak ingin korban nyawa berjatuhan.

Yang menarik dari novel ini, adalah cara penulis dalam mendeskripsikan arsitektur bangunan yang ganjil secara terperinci. Ditambah aktivitas makhluk gaib tak berwujud, yang mengundang rasa ingin tahu sekaligus membuat ngeri.
Tidak berlebihan. Komposisi yang pas untuk sebuah novel horor. Belum lagi akhir cerita yang tak diduga-duga.[]

(Pernah dimuat di koran Radar Sampit edisi 14 Mei 2017)

Selasa, 10 Januari 2017

Resensi: Bangkit Setelah Patah Hati


Judul: Ubah Patah Hati Jadi Prestasi
Penulis: Dwi Suwiknyo
Penerbit: Quanta
Cetakan: I, Oktober 2016
Tebal Buku: 280 halaman
ISBN: 978-602-02-9393-6

Patah hati bisa berdampak pada menurunnya semangat untuk bergerak hingga mengurangi produktivitas seseorang. Kondisi hati yang dilanda kegundahan, tidak tenang, membuat pekerjaan dan kegiatan lain menjadi terganggu. Wajar bila manusia bersedih hati akibat situasi yang tidak diinginkan, tetapi ada yang jauh lebih penting dari itu, yakni bagaimana cara kita menjadikan patah hati sebagai awal dari menggapai prestasi.

Bukan hanya lantaran putus cinta, hinaan, dianggap remeh oleh orang lain juga bisa mematahkan hati seseorang. Tetapi bagaimana bisa maju kalau terus-terusan terpuruk pada masa lalu atau hal-hal yang tidak menyenangkan? Sementara masa depan sudah harus dirancang dan diperjuangkan.

Melalui bukunya, Dwi Suwiknyo menawarkan beragam solusi untuk si patah hati lewat uraian, kiat, serta kisah-kisah inspiratif. Kisah, yang akan membawa pembacanya terpacu untuk menjadi pribadi yang berprestasi. Contohnya saja, kisah salah satu artis Hong Kong terkaya, Chow Yun Fat. Siapa yang mengira bahwa di masa lalunya ia seorang bell boy  di sebuah hotel.

Ketika itu, Chow Yun Fat diminta untuk mencuci mobil mewah tamunya. Namun, ia malah dihina dan dimaki oleh sang atasan karena mencoba masuk ke mobil mewah itu dan berlagak menyetir. Ia hanya tersenyum, tidak membantah, dan malah menjadikan hinaan itu sebagai bahan  bakar untuk terus bekerja keras. Kini, ia telah mengoleksi puluhan mobil serta rumah mewah (halaman 31-32). Ini yang mesti kita contoh. Kesanggupan mengubah hinaan menjadi prestasi.

Lalu kisah seorang Jack Ma, miliarder kelas dunia yang dulunya begitu akrab dengan kegagalan dan penolakan. Ditolak tiga universitas, 30 tempat kerja, sempat membuatnya putus asa. Namun kebutuhan biaya hidup mendesaknya untuk terus bekerja. Dimulai dari bisnis kecil-kecilan yang bahkan dianggap ide bodoh oleh banyak orang. Di tahun-tahun berikutnya ia dinobatkan sebagai orang terkaya di China (halaman 33). Temukan pula kisah inspiratif lainnya yang penulis suguhkan dalam lembaran-lembaran bukunya.

Untuk mencapai sukses dan berprestasi memang tidak mudah. Ada fase tertentu yang mesti dilalui sebelum kesuksesan itu berhasil diraih. Perjuangan tanpa henti. Juga upaya untuk tidak mudah goyah karena suara-suara sumbang yang tidak jarang membuat ciut nyali.

Sebab kondisi mental yang mudah goyah dan rapuh bisa membuat lemah dan berat dalam menjalani hidup. Oleh karenanya, ada tahapan yang mesti dilakukan untuk menyehatkan mental. Yaitu dengan mengenal dan berani mengambil risiko. Sebelum bertindak, pastikan kita telah punya gambaran mengenai keuntungan dan akibat-akibat lainnya. Pahami pula perbedaan mendasar antara nasib dan takdir (halaman 47-48). Tahapan selanjutnya, bisa disimak dalam buku ini dengan lebih lengkap.

Selain pembahasan di atas, buku ini juga memuat lembar renungan di tiap akhir babnya. Di bab tertentu bahkan tersedia daftar pertanyaan untuk mengukur kualitas mental, mengecek potensi kecerdasan, hingga tes semangat juang.

Bacaan yang komplit, menarik, serta syarat perenungan ini cocok dibaca bagi remaja dan dewasa. Terutama untuk pribadi yang sedang patah hati agar segera memperoleh semangat baru demi menyongsong hari esok yang lebih baik. Membangun kepercayaan diri, tidak larut dalam kesedihan masa lalu, terus menggali potensi yang dimiliki, dan bermental tangguh adalah poin-poin  penting dalam buku ini yang sepatutnya bisa kita terapkan.[]
***

(Pernah dimuat di Kabar Madura, 5 Januari 2017)

Jumat, 30 Desember 2016

Resensi: Bijak dalam Mengelola Cinta

Judul Buku: Bingkai Kasih Khazanah Jiwa
Penulis: Kazuhana El Ratna Mida
Penerbit: Quanta
Cetakan: I, September 2016
Tebal Buku: 132 halaman
ISBN: 978-602-02-9217-5

Pada hakikatnya, cinta merupakan anugerah Tuhan yang bersifat fitrah. Sebentuk rasa yang akan membawa pemiliknya pada ketentraman batin dan kebaikan hidup jika dikelola dengan cara yang benar. Menjadikan cinta tetap terjaga dan terealisasikan sesuai aturan agama.
Bingkai Kasih Khazanah Jiwa, hadir di tengah maraknya golongan muda-mudi yang gemar mengumbar perasaan dan memuja cinta. Kurangnya ilmu, hingga terkadang membuat cinta menjadi salah arah, lalu membutakan mata hati, dan berakhir dengan penyesalan. Buku yang akan mengajak pembacanya untuk lebih cerdas dan bijak dalam me-manage hati. Agar nantinya perasaan tersebut berbuah keberkahan. Esensi dari buku ini, ialah cinta dalam sudut pandang Islam.

Pada bab Cinta Sebagai Anugerah, penulis mengungkapkan bahwa sejatinya, cinta  akan membuat si pencinta  menjadi lebih menghargai hidup. Hidup pun menjadi lebih semangat dan berwarna. Sedangkan cinta yang membuat merana, sedih, dan nelangsa adalah cinta yang berada dalam jalan yang salah (halaman 11). Bila rasa itu hanya berdampak pada kerisauan, kesedihan yang berlarut, segeralah perbaiki niat dan mohon petunjuk-Nya.

Cinta bisa hadir kapan dan di mana saja. Tidak bisa diprediksi, namun bisa dideteksi. Biasanya diawali dengan pandangan mata. Ketertarikan fisik, atau bisa juga karena baiknya kepribadian seseorang. Kenali pula ciri-ciri orang yang sedang jatuh cinta, di antaranya: suka memandang orang yang dicintai, malu bahkan salah tingkah jika orang yang dicintai menemuinya, banyak membicarakan dan menyebutkan orang yang dicintai, selalu ingin dekat dengan orang yang dicintai, dan beberapa ciri lain yang dikupas dalam buku ini.

Setelah mengenal cirinya, dan mungkin saja ciri tersebut ada pada diri, sebagai seorang muslim ada baiknya untuk menggali lebih jauh pengetahuan tentang batasan-batasan apa yang harus dipahami perihal mencintai.

Jangan jadi buta karena cinta. Deteksi dengan segera agar tidak salah bertindak. Sebab bila dibiarkan dan tumbuh mengakar tanpa ada pegangan yang kuat, bisa menjadi bencana. Bahkan sumber dosa bila tidak mengarah pada kebaikan dan keridaan-Nya (halaman 26-27). Pahami dampak negatif yang ditimbulkan akibat cinta buta yang sudah jelas merugikan.

Imam Al-Ghazali berpendapat, bahwa cinta tak akan tercapai kecuali dengan pemahaman (makrifat). Sementara itu, pemahaman tidak akan tercapai melainkan dengan pemaknaan (tafakur). Pemaknaan dan pemahaman akan cinta, nantinya bermuara pada satu tujuan yakni surga. Maka sudah selayaknya manusia mencintai sesamanya karena Allah (halaman 57).

Di bab lainnya, juga dijelaskan mengenai jenis-jenis cinta, cara me-manage cinta agar berbuah berkah, kemudian membingkainya dengan khazanah jiwa yang membuat hati tentram dan penuh suka cita.

Penuturannya yang santai,  berhikmah, dan berisikan uraian-uraian mencerahkan menjadikan buku ini layak untuk disimak. Beragam tips yang terangkum di dalamnya bisa menjadi solusi dalam menghadapi beragam persoalan tentang cinta, bagaimana membangun fondasi keimanan lebih kokoh agar tidak mudah terjerumus pada kesalahan dalam pemaknaan cinta, yang tentunya bermanfaat untuk pembentukan karakter yang lebih unggul.[]

(Pernah dimuat di Kabar Madura, 20 Desember 2016)

Rabu, 23 November 2016

Resensi: Menjaga Ikrar Suci Pernikahan

Judul: The Unbroken Vow
Penulis: Kezia Evi Wiadji
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Agustus 2015
Tebal Buku: 232 halaman
ISBN: 978-602-03-1963-6

Pernikahan bukan hanya perjanjian suci yang terjalin antara individu dengan pasangannya, melainkan juga ikrar langsung pada Tuhan. Karenanya, sudah sepantasnya hubungan tersebut dijaga agar tetap utuh meski guncangan dalam kehidupan rumah tangga bisa menyapa kapan saja.  Kesibukan pasangan, ketidakcocokan dan perbedaan cara pandang, lahirnya keegoisan, hingga hadirnya orang ketiga sangat memungkinkan menjadi alasan goyahnya suatu hubungan yang semula nampak baik-baik saja.

Kezia Evi Wiadji dengan novelnya The Unbroken Vow, mengambil tema kehidupan dan permasalahan rumah tangga yang akan membawa pembaca pada titik perenungan. Memaknai lebih dalam terkait janji suci pernikahan. Mengisahkan tentang kehidupan sempurna Ivy sebagai ibu muda dengan karier yang cemerlang, didampingi oleh lelaki terkasihnya bernama Ethan, serta buah hati mereka yang menggemaskan dan baru menginjak usia TK, Cindy.

Semula, semua nampak normal dan baik-baik saja. Cindy pun tumbuh sebagai peri kecil yang lucu dan ceria. Namun hadirnya sosok Sally sebagai orang ketiga di tengah kehidupan tenang mereka jelas membuat Ivy geram. Rasa sakit hati dan kepedihan menikam jantungnya. Ia secara gamblang menolak kedekatan lelakinya dengan Sally. Lebih-lebih, wanita itu adalah guru putrinya di sekolah (halaman 69-70).

Sally tak hanya berhasil mencuri perhatian Ethan, tapi juga Cindy. Mau tak mau Ivy harus berusaha mengontrol emosi bila mendapati Cindy berceloteh tentang Sally yang baik hati, yang suka membawakan makanan lucu dan enak, pintar menggambar, dan sejuta hal lain tentang kebaikannya (halaman 83).
Di tengah kerisauan yang membelit hati Ivy, sosok Max hadir sebagai penawar kegelisahannya. Meski perkenalan mereka diawali dengan insiden yang tak mengenakan. Kala itu mobil yang ditumpangi Ivy dan Cindy dikempung oleh empat orang preman. Karena panik, Ivy dengan sengaja menabrakan mobilnya dengan mobil Max yang berada di depannya.

Setelah mengatur pertemuan dengan alasan meminta uang ganti rugi atas kerusakan mobil, Max justru mulai menunjukkan ketertarikannya pada Ivy. Ia juga nampak begitu menyayangi Cindy. Belum lagi perhatiannya terhadap wanita itu ketika teror masa lalu kembali menghantui Ivy.

Novel dengan alur maju-mundur ini cukup membius pembaca untuk terus mengikuti kisahnya sampai akhir. Plot tidak terduga yang disuguhkan membawa daya kejut tersendiri. Banyak rahasia yang disembunyikan penulis dengan demikian rapi, kemudian dibuka satu demi satu hingga menimbulkan letupan-letupan mengejutkan.

Inspiratif dan berkesan. Banyak pesan tersirat yang penulis sisipkan dalam novel ini. Meski temanya agak berat, namun pesannya tersampaikan dengan cukup baik. Mengenai gambaran kehidupan rumah tangga yang memang tidak terlepas dari beragam permasalahan serta akibat yang ditimbulkan karena kesalahan pengambilan keputusan. Tentang penyesalan, alasan untuk bertahan, kesempatan kedua, yang menjadi bumbu dalam hubungan dua insan yang saling menerima dan mengasihi.[]

(Pernah dimuat di Kabar Madura, 14 November 2016)

Minggu, 20 November 2016

Resensi: Jodoh, Kejutan Terbaik dari Allah

Judul Buku: Insya Allah, Sah!
Penulis: Achi TM
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, 2015
Tebal Buku: 328 halaman
ISBN: 978-602-03-1465-5

Menikah merupakan impian yang begitu didambakan bagi mereka yang masih berstatus lajang. Sementara perihal jodoh adalah kuasa Tuhan yang bersifat rahasia dan baru akan diketahui bila tiba waktunya untuk dipersatukan dalam jalinan suci pernikahan. Maka tak jarang masalah jodoh ini menjadi sumber kerisauan bagi para single.

Novel Insya Allah, Sah! karangan Achi TM ini cukup mewakili kegelisahan wanita karier yang di usia matangnya tak kunjung menikah. Pengalaman Achi TM sebagai penulis buku sekaligus penulis naskah skenario televisi (serial, sinetron, dan FTV) menjadikan novel ini teramu begitu menarik karena narasinya cenderung atraktif, detail, dan nampak hidup.

Mengisahkan tentang Silviana, desainer sekaligus pemilik butik beromzet miliaran yang secara materi dan mental sudah siap menikah tetapi belum juga dilamar oleh Dion, kekasihnya. Mereka bahkan sempat bertengkar karena Silvi mendesak Dion agar segera melamarnya. Hingga di suatu hari, tanpa pertanda apa-apa Dion mengirim pesan yang meminta agar Silvi menemuinya di sebuah restoran. Dion berniat melamarnya (halaman 9-10).

Tetapi di hari yang mestinya istimewa itu Silvi justru diterjang banyak kesulitan. Ia harus menunda pertemuannya dengan sang kekasih karena salah seorang pelanggan mengaku tidak puas dengan hasil kerja Silvi dan minta desain ulang. Setelah pekerjaan tambahannya usai, kesialan demi kesialan malah secara beruntun mengampirinya. Puncak kesialannya, terjadi ketika ia mencoba menemui Dion di kantor. Silvi terjebak di dalam lift yang mendadak berhenti bergerak bersama Raka, lelaki religius yang baru kali pertama ditemui.

Tak dinyana, ternyata Dion sungguhan melamar Silvi hari itu juga. Ia begitu girang dan setelahnya langsung disibukkan dengan persiapan pernikahan. Silvi lupa bahwa ia sempat bernazar bila berhasil keluar dari lift dengan selamat, wanita itu akan memenuhi kewajiban sebagai seorang muslimah, yakni berhijab. Sebuah janji paling mustahil mengingat dirinya pemilik butik pakaian seksi. Akibat kelalaiannya itu, kekacauan urusan pernikahan terus-menerus terjadi. Mulai dari ditipu agen WO abal-abal, cathering tidak beres, hingga urusan baju pengantin pun turut kacau.

Raka sebagai satu-satunya orang yang tahu tentang nazar itu mencoba mengingatkan Silvi agar segera menunaikan nazarnya. Setelah berbagai kejadian buruk yang dialaminya, Silvi pun mencoba berhijab. Hatinya sampai bergetar hebat ketika mengelus jilbab yang ia kenakan. Seperti jatuh cinta (halaman 238). Namun satu kenyataan pahit mesti ia telan, ketika Dion tunangannya menolak perubahan penampilannya itu bahkan sampai mengancam akan membatalkan pernikahan.

Secara keseluruhan, novel chicklit bergenre islami ini cukup seru untuk disimak. Kalimat-kalimatnya terbangun begitu lincah, dengan pola alur yang runut hingga menggiring pembaca untuk tetap menyimak kisahnya sampai selesai.

Ada pembelajaran yang bisa dipetik dari buku ini terutama soal nazar. Ya, nazar memang bukan perkara main-main dan wajib dilaksanakan sebab ia bukan sekadar janji pada diri sendiri melainkan janji kepada Allah. Terlebih, nazar tersebut untuk kebaikan diri sendiri.

Poin penting lainnya yang ditekankan oleh penulis adalah mengenai cara bergaul. Seorang muslim harus paham batasan-batasan pergaulan dengan yang bukan mahramnya. Juga tentang kewajiban berhijab bagi wanita muslim, yaitu sebagai identitas dan perisai diri.[]

(Pernah dimuat di koran Singgalang, 20/11/2016)

Rabu, 02 November 2016

Resensi: Kiat Meraih Keberuntungan dan Kebahagiaan

Judul: Menjadi Pribadi yang Selalu Beruntung
Penulis:Dwi Suwiknyo
Penerbit: Quanta, Elex Media Komputindo
Cetakan: I, Februari 2016
Tebal Buku:228 halaman
ISBN: 978-602-02-8161-2

Siapkah kita menjadi pribadi yang beruntung? Atau, sudahkah kita termasuk golongan manusia yang beruntung? Ini bukan hanya soal materi, antara untung atau rugi. Keberuntungan yang dimaksud dalam buku ini adalah kemudahan, kelancaran, hadirnya solusi sebagai hadiah untuk orang-orang yang bersabar. Bersikap  sabar meski dalam situasi sempit bahkan beban yang kian menghimpit.

Buku ini semacam alarm yang dihadirkan pada pembaca tentang pentingnya rasa syukur. Mengajak untuk terus berhusnudzan atas apa yang menjadi kehendak-Nya. Bagaimana kita memandang setiap persoalan, cobaan, musibah, dengan kacamata positif.
Belajar, untuk berucap "Alhamdulillah" walau sedang dilanda musibah. Percaya, bahwa rahasia nikmat akan kita dapatkan setelah berhasil melalui musibah itu. Allah punya rencana indah. Kita sebagai hamba-Nya perlu peka atas segala nikmat-Nya (halaman 16).

Yakin saja kalau di balik musibah, Allah pasti telah menyediakan hadiah istimewa, sebuah kejutan, keputusan terbaik untuk kita. Memang tidak bisa langsung dirasakan, tetapi jangan kaget ketika nantinya datang masa itu dan kita berucap dengan bahagia, "Ternyata ini hikmahnya."

Orang yang beruntung, adalah orang-orang yang berbahagia. Lalu kenapa ada saja orang yang sulit bahagia? Berikut poin-poin alasannya yang dituturkan oleh penulis dalam buku ini:
-Kita suka mencela segala sesuatu.
-Karena kurangnya rasa syukur.
-Kita malas memuji Allah.
-Sifat iri dan dengki bila melihat orang lain bahagia.
-Terlalu fokus dengan kepentingan sendiri.
-Karena kita sukar memberi maaf bila telanjur sakit hati.
-Hidupnya begitu tegang hingga tersenyum pun susah. 
-Suka murung dan lebih senang menyendiri.
-Terakhir, karena tertekan dengan pekerjaan yang tidak sreg di hati (halaman 67-70).

Hidup adalah rahasia Tuhan dan bersifat misteri. Banyak orang yang salah kaprah karena mengukur kebahagiaan hidup hanya dari segi harta. Padahal, harta bukanlah jaminan. Semakin banyak harta, justru semakin was-was dalam menjaganya. Harta itu, seharusnya cukup diletakkan di tangan, jangan di hati. Karena apabila rusak/hilang, jadinya bisa sakit hati (halaman 75).

Orang yang beruntung, biasanya gemar membantu sesama. Maka apabila datang seseorang kepada kita dan meminta pertolongan, bisa jadi dia adalah malaikat yang akan menolong di saat kita kesusahan (halaman 95). Artinya, jangan malas menolong orang lain jika kita memiliki kesanggupan untuk membantu. Karena siapa yang bisa mengira, kalau ternyata di kemudian hari orang yang kita tolong tadi menjadi penyelamat bagi kita.

Keberuntungan bisa diraih karena adanya usaha. Komitmen dan totalitas adalah kunci. Jadi ketika seseorang memutuskan untuk memilih satu jalan, maka ia tidak boleh setengah-setengah dalam berusaha. Yaitu usaha tanpa kenal lelah apalagi sampai menyerah.

Kita mungkin saja ahli berkomunikasi dengan orang lain, tapi selalu gagal berkomunikasi dengan diri sendiri. Kita bisa memotivasi orang lain agar semangat, justru di dalam diri sendiri semangat itu telah padam (halaman 167-169). Perlu diingat, bahwa hidup ini juga tentang keseimbangan. Apa yang kita katakan, mesti sesuai dengan apa yang dilakukan. Kendalikan diri, dan jadilah tuan bagi diri sendiri.

Salah satu kutipan menarik dalam buku ini, bahwa, "Siapa saja yang memudahkan urusan orang lain, Allah akan memudahkan urusannya. Dan siapa pun yang membahagiakan orang lain, Allah pasti akan membahagiakannya. Itulah janji Allah."

Buku ini sangat bermanfaat, syarat akan perenungan, mencerahkan, dan bahasanya mudah dipahami hingga bisa langsung diserap serta diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dan, bersiaplah Anda menjadi pribadi yang selalu beruntung.[]

(Pernah dimuat di Koran Pantura, 4 Oktober 2016)
***