Kamis, 16 Mei 2013

Lomba Menulis Cerpen DL 3 Juni 2013

Selamat siang sahabat cerpen,alhamdulillah kali ini saya admin Kishi ingin berbagisedikit kesenangan. Kali ini aku ingin mengadakan lomba menulis cerpen. Untuk syaratnya bisa di simak ya! :
  1. Lomba terbuka untuk umum, mulai tanggal 3 Mei 2013 s.d 3 Juni 2013 (pukul 23:59 WIB).
  2. Membagikan info lomba ini ke minimal 25 teman di jejaring sosial facebook, twitter atau posting di blog pribadi (pilih salah satu).
  3. Jangan lupa untuk tag ke akun saya juga ya! https://www.facebook.com/kishi.putri?ref=tn_tnmn
  4. Tema lomba: “CERMIN” .
  5. Naskah dalam bentuk Word dengan format file Ms Word 2003, kertas ukuran A4, font TNR 12pt, spasi 1.5,margin rata-rata 3 cm (1,18 inci) untuk setiap sisi dan dengan panjang cerita minimal 8 - 10 halaman.
  6. Naskah merupakan karya asli penulis dan belum pernah dipublikasikan dalam bentuk buku.
  7. Setiap peserta hanya diperbolehkan mengirim 1 naskah terbaiknya, lengkap dengan biodata narasi, maksimal 30 kata.
  8. Naskah yang telah memenuhi ketentuan di atas, dikirim ke email: kishiaprilia@gmail.com (berupa attachmant, bukan di badan email),  dengan subyek email: CERMIN_JUDUL NASKAH_NAMA PENULIS dan nama file sesuai dengan nama penulis.

Untuk hadiah :

PEMENANG PERTAMA : Pulsa sebesar Rp. 50.000
PEMENANG KEDUA     : Pulsa sebesar Rp. 20.000
PEMENANG KETIGA    : Pulsa sebesar Rp. 10.000

Ayok menulis lagi! :)

http://kishiaprilia.blogspot.com/2013/04/lomba-menulis-cerpen.html


Jumat, 03 Mei 2013

Solusi, ada pada Diri

Semangat pasang surut. Hmm, lagu lama. Adakalanya aku begitu bersemangat, ada saatnya pula aku terpuruk. Adakah orang mengetahui perkara itu? Tidak ada. Hanya Dia Yang MahaTahu.

Aku sering memotivasi, menasehati dan menyulut semangat orang lain, hingga ada yang menyangka kalau orang yang penuh dengan semangat di usia muda. Padahal, tidak juga.

Senang bila ada yang terpacu karena omonganku yang sok bijak. Sedih bila mendengar orang lain mengeluh karena terkurung dalam penjara 'takut gagal'. Hei, kawan. Aku juga butuh penyemangat, jadi jangan keluhkan sesuatu secara berlebihan. Aku takut tertular. Kalau ingin menularkan sesuatu, cukup hal-hal yang berdampak positif saja.

Bukan. Bukan maksudku tak mau mendengarkan. Karena kurasa, kalian bisa mencari solusi itu sendiri. Persoalan kalian, bukan tentang hubungan diri sendiri dengan orang lain, tapi pergulatan dengan diri sendiri.

Aku tak suka curhat. Aku lebih suka diam, menyendiri, dan mencari solusi hidupku sendiri. Yang kadang membuat kepala ini mendadak pusing.

Dan lagi. Kucoba merefresh otak dengan menulis cerita, dan menuangkan kegalauanku di situ. Cukup membantu.

Untuk siapa pun, ayolah. Jangan hanya bisa mengeluh dan mengeluh. Tulis saja kisah-kisah menyedihkan kalian dalam sebuah karya. Rangkai dengan kata-kata yang santai namun mengena di hati. Belajar untuk mencari solusi sendiri agar orang lain yang bernasip sama dengan kalian, dan secara tak sengaja membaca tulisan kalian, bisa turut bangkit.

Yuk, luweskan jemari. Ungkap kisah-kisah misteri yang terselebung dan mengendap dalam memori, agar bisa menjadi pembelaajaran di kemudian hari.


Sumber gambar ada di sini


Salah


Detak  jarum jam terus bergulir, tak kan bisa dihentikan, diulang, atau bahkan diubah. Tak peduli pada manusia-manusia yang berjalan di tempat atau pada mereka yang telanjur salah mengambil sikap. Terus dan terus saja berputar, meski keluhan demi keluhan acapkali menjurus padanya.

“Andai aku bisa mengulang waktu dan mengubah segala apa yang terjadi kemarin. Tentu pikiranku tak kan serumit ini.” Felia mengembuskan napas panjang. Ada lirik sesal yang bergelayut manja dalam otaknya.

Kemarin, saat berpapasan di laboratorium sekolah. Felia menghalangi langkah Ken. Ken sontak terkejut dan menatap aneh gadis lancang itu. Alis tebalnya saling bertaut namun bibirnya masih terkatup.

“Aku menyukaimu,”

Hening beberapa detik,

“Lalu? Apa peduliku?” tanya Ken, datar. Ia seolah tak cukup peduli dengan apa yang baru saja di dengar.

“Begitukah jawaban yang kudapat? Aku menyukaimu, sungguh. Kau … kau juga menyukaiku, bukan? 

Kalau tidak, mana mungkin kau mengirim puisi cinta ke ponselku?” Felia mengarahkan ponselnya ke wajah 

Ken. Di situ, memang tertera jelas bahwa si pengirim mengaku sebagai Ken.

“Dan kau dengan bodohnya percaya. Itu bukan nomorku.” tegas Ken.

“Eh?”                           

“Benar.  Sini, biar kutunjukkan siapa pelakunya.”

Ken meraih ponsel Felia, memijit tombol-tombol tertentu dan terakhir menekan tombol hijau. Matanya mulai menyapu pemandangan sekitar.

"Yap, ketemu."

Ken mengisyaratkan Felia untuk mengalihkan pandangan ke pojok kiri lapangan. Seorang pemuda dengan pakaian lusuh dan bertopi hitam pudar, tengah memandangi layar poselnya, sementara lengan kirinya mengapit sapu ijuk.

“Dia … dia pelakunya.” tuding Ken, mantap.

“Tidak mungkin. Ini mustahil.” elak Felia. Menggeleng cepat.

Ken menggamit bahu Felia. Menatapnya lekat-lekat. Dan melempar senyum iba namun sarat pesona.

“Dengar. Bukan maksudku mengabaikan rasamu. Tapi sungguh, aku tak pernah mengirim pesan sekonyol itu. Dan tentang perasaanmu padaku, percayalah, itu hanya buih. Yang sewaktu-waktu dapat melenyap. Tanda sisa, tanpa arti. Paham?” Ken menggeser Felia dari hadapannya agar menepi.

Kemudian melanjutkan langkahnya menuju perpustakaan. Gadis itu merasa tertohok. Ciut. Malu bukan main.

“Apa ini? Aku, aku ditolak? Memalukan,” desisnya. Ia merasa malu, merasa rendah diri. Hancur nian hatinya kala itu. Ia tak menyangka kalau kejadiannya akan seperti ini.

Felia menelepon ulang nomor tadi, namun dengan kartu SIM lain. Ingin coba memastikan sekali lagi, apakah benar Bayu si anak penjaga sekolah yang sudah mempermainkannya.

“Halo?” sapa pemuda di pinggir lapangan.

 Deg.

Napasnya kembali terasa sesak. Percuma memungkiri kenyataan ini. Sebab semua telah terbukti.
Ken. Kenapa bisa aku begitu meyakini bahwa kau yang mengirim pesan itu? Kita sudah jelas beda kasta. Kau keturunan bangsawan, aku hanya rakyat jelata. Kau seseorang yang dipuja-puja, sementara aku dari kaum pemuja. Kau ibarat berlian. Meski berada di antara butir-butir debu, sinarmu kan tetap terpancar. Dan orang-orang akan dengan mudah mengenalimu. Ya, itulah dirimu. Yang selalu menjadi pusat perhatian banyak orang. Lain halnya denganku, aku hanyalah debu. Yang akan dengan mudahnya diinjak, ditiup, dan terasingkan. Ratapnya, getir.

-End-

Akhir Penantian


Kurasa ini tak akan ada akhirnya. Sebuah penantian usang namun masih juga kekal dalam ingatan seorang gadis belia setengah gila. Apalagi kalau bukan perkara cinta. Sebuah rasa yang acapkali membuat pemiliknya terlupa. Bahwa apa yang dirasa, tak selalu harus kembali dengan bentuk yang serupa. 

Pengharapan. Mendamba sebuah timbal-balik atas apa yang sudah tercurahkan. Membenci apa yang tak semestinya dibenci.

Kukira kisah ini kan berakhir bahagia bak kisah menawan di novel roman yang biasa kubaca. Namun nyatanya aku malah makin terjerembap dalam lembah harapan yang melumerkan segala logika. Terus saja bertahan meski luka makin menyayat penuh siksa.

Walau hingga kini, harapku masih sia-sia belaka.

Wangi segar bunga di taman yang dulunya begitu akrab dengan hidungku. Kini seperti bau anyir darah yang mengusik tajam dan membuatku mual. Benang sari dan putik yang saling melengkapi membuat jijik. Benci. Kenapa aku tak seperti mereka. Dekat dan saling berbagi cinta.
Air mataku seketika tumpah ruah sia-sia. Berguguran menimpa rerumput liar yang hampir tiap hari terinjak banyak nyawa.

Pernahkah mereka mengeluh? Pernahkah mereka merasa hina? Atau justru masih sanggup tersenyum di atas luka?

Kuusap helainya yang sobek dan kotor tergilas roda sepeda. Aku mulai membuka percakapan dengan mereka.

“Akankah suatu saat kalian kan hidup tentram? Tanpa perlu lagi merasakan getirnya kehidupan. Jika jawabannya ‘Ya’ maka aku kan meniru kalian.”

Rumput liar hanya bergoyang lemah. Aku tak paham maksudnya apa.

“Atau malah kan mati sia-sia? Jika jawabannya tetap ‘Ya’ maka mungkin aku pun kan bernasib sama.”

Para pengunjung taman mulai berkerumun mengelilingiku. Menatap iba. Kenapa? Kenapa seperti itu? Apa aku tampak begitu menyedihkan? Aku baik-baik saja. Ya, hanya saja kini rambutku awut-awutan tak jelas rupa. Wajah dan tubuhku penuh bekas luka karena dipukuli orang sebab seringkali merusak bunga-bunga kesayangan pemiliknya.

Cuih.

Kuludahi saja baju mereka. Ada yang kena, ada juga yang tidak. Hatiku mengembang bahagia. Sebab mereka kini sama hinanya denganku. Bau.

Lihat. Tatapan mereka yang awalnya teduh, kini menyala. Melotot seperti hendak melompat. Marah, mungkin. Namun apa peduliku. Kisah cinta sepihakku saja hingga kini tak ada yang peduli. Jadi untuk apa aku peduli pada orang lain.

Aku berlarian. Meninggalkan mereka sebelum amarahnya meledak-ledak. Lari dan terus lari hingga berhenti di tengah rel kereta api yang kebetulan tengah difungsikan. Orang-orang meneriakiku.

Kenapa? Kenapa seperti itu? Apa aku tampak begitu menyedihkan? Aku baik-baik saja. Ya, hanya saja kini rambutku awut-awutan tak jelas rupa. Wajah dan tubuhku penuh bekas luka karena dipukuli orang sebab seringkali merusak bunga-bunga kesayangan pemiliknya.

Tunggu. Kali ini ada yang berbeda. Kereta api tinggal beberapa meter mencium tubuhku dengan manja. Apa yang harus aku lakukan? Menyelamatkan diri, atau membiarkan tubuhku tertabrak dan mati sia-sia?

Ah, ya. Pilihan kedua cukup menarik. Karena dengan begitu, penantianku akan segera berakhir. Selamat tinggal dunia.

Kamis, 02 Mei 2013

Aku yang Baru

Dear, Leli

Apa kabar kamu? Sudah berhasil merajut mimpikah? Atau masih terombang-ambing di laut lepas seperti belasan tahun lalu? Ah, kamu. Coba kutebak, ya? Kau pasti sudah menemukan beberapa helai benang, menggeggam jarum, namun masih gentar karena takut tertusuk dan terluka.

Ayo bercermin. Lihat dirimu yang sekarang. Oh, betapa malangnya dirimu. Pengangguran tak jelas juntrungan. Bekerja setengah hati hingga akhirnya kau menyerah dan keluar dari tempat kerja. Mau jadi apa dirimu? Anak yang belum mampu membalas budi, tapi tak ada usahanya sama sekali.

Kudengar, kau sudah mulai punya mimpi. Ayolah. Jangan terus-terusan menjadi pecundang. Aku tahu kau mampu. Aku yakin kau bisa. Syarat utamanya hanya satu, KEYAKINAN. Bila kau sudah meneguhkan keyakinan dalam hati dan pikiranmu, langkah selanjutnya adalah bekerja keras untuk mewujudkannya dan tak lupa berdoa.

Masih tetap ragu? Dasar payah. Ubah rasa takut akan kegagalan, kerisauan yang melilit diri dengan semangat juang tinggi.

Kau masih muda, masih sanggup berkarya.

Sekarang, coba lepaskan beban yang memenuhi isi kepala. Rileks kan dirimu. Rapalkan sebuah doa. Minta, minta kepada-Nya. Agar jalanmu diberi penerangan. Sebut mimpi-mimpimu mesti masih sedikit mengabur. Berjanjilah, kau tak kan pernah berhenti hingga apa yang kau citakan bisa terwujud.

Belajar untuk move on. Melangkahlah. Jangan hanya berjalan di tempat apalagi memutuskan untuk mundur. Kau harus berusaha untuk bisa menghargai diri sendiri. Meyakini akan kemampuanmu diri. Biarkan orang berkata apa. Biarkan dunia menertawaimu. Sebab mereka tak tahu betapa sulitnya menjadi dirimu.

Sudah paham kan? Bagus. Sekarang, saatnya membentangkan tangan. Teriakan pada seluruh jagat raya, seperti ini.
"Inilah aku yang baru. Aku yang berani bermimpi. Aku yang penuh gejolak semangat tiada henti. Hei, pintu sukses. Tunggu aku, ya? Cepat atau lambat, aku pasti akan menemukan kuncimu."



Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway Ketika Cinta Harus Pergi

 

Jumat, 19 April 2013

Review Novel


Everything for You
Karya: Indah Hanaco
Kala cinta mulai menyapa dua insan yang saling memuja, Livana dan Desmond. Kisah cinta mereka, awalnya memang sangat manis, hingga berujung pada pernikahan tanpa restu dari keluarga Desmond.

Mulanya semua baik-baik saja. Bahkan, Liv merasa segalanya terlalu indah, ia merasa menjadi manusia paling beruntung bisa bersanding dengan Desmond.

Namun lambat laun, konflik mulai mewarnai keharmonisan rumah tangga mereka. Sifat Desmond yang pencemburu menjadi percikan-percikan kecil yang berubah menjadi api yang kian membesar. Hatinya mudah terbakar, hingga membuatnya tak segan-segan melukai hati sekaligus fisik wanita yang begitu dicintainya.

Rasa cintanya pada Liv yang luar biasa, bahkan membuatnya tak ingin siapa pun merebut perhatian Liv darinya. Termasuk calon buah hati mereka sekalipun. Desmond melarang Liv untuk hamil, hingga menyuruh sang istri untuk meminum pil mencegah kehamilan.

 Liv tak mengerti dengan jalan pikiran Desmond, setalah menimbang-nimbang, akhirnya ia memutuskan untuk berhenti meminum pil. Desmond mulai curiga, dan kecurigaannya pun terbukti. Ia marah besar, sangat garang dan mengerihkan. Ia meninju pelipis Liv hingga wanita itu tersukur dan cidera. Tulang hidungnya patah.Tragedi mengerikan itu membuka jalan bagi Liv untuk memutuskan berpisah dengan Desmond.

Kehamilan. Rupanya, ia telah mengandung calon bayi dari mantan suaminya dan hal itu disadari setelah mereka berpisah.

Neo, jagoan cilik kebanggaannya. Menjadi jembatan pertemuan Liv dengan pria lajang, tampan, mapan, dan lembut. Keanu, seorang dokter gigi.

Keanu adalah pemuja Neo sejak kali pertama bertemu. Ia begitu menyukai anak kecil itu. Bukan hanya Keanu, tapi hampir semua orang yang melihat anak itu pasti akan langsung menyukainya. Neo mendapat perhatian dan kasih sayang dari banyak orang, kecuali Desmond, ayah kandungnya sendiri.

Keanu, dia bukan hanya menyayangi dan jatuh hati pada Neo, tapi juga Liv.

***

Kisah dalam novel ini, bisa terjadi pada siapa saja. Dan mengingatkan kita, bahwa rasa cemburu yang berlebihan bisa menjadi bumerang  tak terelakan dan berbahaya. Cinta yang cenderung ingin mengatur dan menguasai. Menyadarkan pembaca, bahwa cinta yang sesungguhnya, bukan seperti itu. Cinta yang benar, adalah memberi kebebasan pada pasangan untuk bergaul, berkarir, dan menggapai apa yang mereka inginkan. Bukan malah mengekang habis-habisan.

Sekian uraian atau gambaran singkat mengenai novel Everything for You karya mbak Indah Hanaco. Sebenarnya, masih banyak kisah-kisah manis, mengejutkan, dan juga mengharukan dalam novel ini. So, buat yang penasaran silahkan di serbu toko buku, hehehe…
Kalo aku sih, dapet free dan dikasih tanda tangan dari penulisnya. Thanks mbak Indah, novelnya kereeen. Saya ucapkan selamat, dan semoga nama serta karya-karyamu makin berkibar. Sukses selalu untuk karirnya. ^_^

Selasa, 16 April 2013

Cerpen_ Aku, Kau, dan Senja Kita


Memandang langit senja dengan semburatnya yang menjingga. Ketenangan. Ya, ada sebuah ketenangan yang terlahir dari sana. 
Kembalinya sang mentari ke peraduan, langit jingga yang sedikit demi sedikit berubah mengelabu, menghadirkan sejumput kenangan lamaku bersamanya.

***

“Apa yang kamu suka dari senja?” tanya Trias, di suatu sore.

“Semuanya. Aku suka sama corak warnanya, ketenangannya, apa lagi ada pangeran tampan yang menemin aku menikmati senja.”

“Kamu ini. Pintar ngerayu juga, ya.” Kami pun tertawa bersama. Kebahagiaan yang tercipta dengan sangat wajar, antar dua insan yang sedang dilanda asmara.

“Kalo kamu sendiri, apa yang bikin kamu betah duduk lama ngeliat matahari terbenam?”
 

“Aku suka dengan penyukanya. Dia cantik, baik, dan mempesona. Keindahan senja selalu terpancar dari setiap lekuk wajahnya.”

Aku terdiam sesaat. Menatap lekat dua bola mata hitam kecokelatan milik pemuda berkontur wajah tirus. Mencoba menyelami lebih dalam bias matanya yang tajam namun sesekali dapat terasa begitu teduh.

Sherin dan Trias. Kutup utara dan selatan. Siapa yang menyangka kalau kami bisa pacaran. Aku yang kurang mampu bersosialisasi dan menutup diri, sementara Trias adalah cowok yang senang bergaul dan punya kenalan sana-sini. Dan makin tenar lagi sebab sering melanggar aturan sekolah.

Ya, kami memang berbeda spesies. Tapi semenjak aku mengenalnya lebih jauh, atau lebih tepatnya semenjak kami resmi berpacaran, aku melihat sisi lain dari dirinya. Trias bukan cowok urakan dan berwatak keras yang selama ini kulihat, ia bisa bersikap sopan, perhatian, dan lembut terhadapku.

“Pulang, yuk. Aku takut ibu khawatir dan nyariin aku.” Kami pun beranjak dari bibir pantai dan bergegas pulang.

“Sherin, kok baru pulang jam segini? Kamu dari mana aja, Nak?” tanya ibu, dengan seraut wajah cemas, begitu melihatku memasuki pekarangan rumah.

“Dari… kerja kelompok, Bu. Tempat temen.” Aku terpaksa berbohong, sebab kalau aku bicara jujur, ibu pasti akan memarahiku.

“Lain kali kalo mau kerja kelompok, di sini aja , ya. Supaya ibu nggak ketar-ketir mikirin kamu. Ya sudah, sekarang kamu mandi dulu sana. Habis itu solat.”
 Aku hanya mengangguk kemudian masuk kamar.

Seusai sholat, aku duduk termenung di atas sajadah. Baru kali ini aku berbohong pada ibu, dan rasanya begitu menyiksa. Ya Allah, maafin Sherin.

Selesai melipat sajadah, kuraih ponselku karena layarnya berkedip-kedip. 1 pesan masuk. Trias.

“Sayang, kamu ada uang nggak? Aku pinjem dulu ya, 50ribu aja. Aku tunggu di simpang jalan.”

Aku mengernyitkan kening. Baru kali ini Trias berani meminjam uang padaku. Sebegitu pentingkah?
Kuambil selembar uang lima puluh ribuan dari dompetku, kemudian keluar rumah dan mengayunkan langkah ke persimpangan gang. Trias sudah menungguku di sana.

“Ini,”

“Makasih ya. Maaf ngerepotin kamu. Nanti kalo uang bulananku udah nyampe, pasti aku balikin.”

“Nggak usah, aku ikhlas, kok. Aku tau gimana sulitnya jadi anak kos.”

Thanks, honey. Kamu pengertian banget.”

Baru sebulan kami menjalin hubungan, Trias mulai kembali ke sifat aslinya. Bolos sekolah, taruhan, dan berani merokok di depanku. Kupikir dia sudah berubah, namun ternayata aku salah menilainya. Dengan segenap kesabaran, aku menjemputnya setiap pagi agar ia mau berangkat ke sekolah. Kami sedang  menghadapi latihan ujian nasional, dan aku tidak ingin kalau Trias tidak lulus karena ulahnya sendiri.

“Rin,  nonton, yuk,” ajak Alya, teman sebangku-ku.

“Nonton? Berdua?”

“Ya enggaklah. Tapi bertiga. Gue mau kenalin lo sama sepupu gue. Dikta.”

Alya menarik lenganku menuju pintu bioskop. Seorang cowok berpostur tubuh tinggi dengan kemeja biru muda yang begitu serasi dengan kulit putihnya, nampak memusatkan pandangannya pada kami dengan memegang 3 lembar tiket. Jadi ini sepupunya Alya, cakep amat.

***

“Rin, kok lo masih mau aja sih, pacaran sama Trias. Dia itu nggak cocok sama lo. Dan menurut gue, lo bisa dapet yang lebih daripada Trias.”

“Maksud lo apaan sih, Al. Kita baik-baik aja, kok,”

“Baik dari sisi mana? Lo buka deh mata lo lebar-lebar. Udah berapa kali Trias pinjem duit sama lo, udah berapa kali dia ngajakin lo bolos, udah berapa kali dia berani ngomong kasar ke elo.”

“Gue ikhlas kok ngadepin dia. Trias itu udah bikin gue punya banyak temen. Dia juga yang ngajarin gue kalo masa muda itu, masanya buat have fun.

“Lo selalu aja nilai Trias dari sisi baiknya. Gue sebagai temen cuma bisa kasih saran, mending lo udahan aja deh sama Trias. Dan lo coba buka hati lo buat sepupu gue. Dia orangnya baik, kok, cerdas, dan juga royal. Yang pasti dia lebih segala-galanya dibanding Trias.”

“Kok, lo ngebet banget sih, maksa gue buat putus. Sebagai temen mestinya lo support gue dong, Al. Bukan kayak gini,” balasku, kesal.

 “Terserah deh, Rin. Gue nggak tau lagi gimana cara ngerubah pola pikir lo. Lo udah buta. Sorry, gue balik duluan.”

Alya meninggalkanku sendirian di halaman depan perpustakaan. Sepertinya dia benar-benar kesal padaku. Aneh, mestinya aku yang marah. Siswa lain juga sudah mulai meninggalkan wilayah sekolah. Saat pikiranku mulai menerawang, mencoba mencerna semua kata-kata Alya tadi, Trias duduk di sebelahku sambil menghisap sepuntung rokok yang tinggal setengah bagian.

“Kamu ke mana aja, kemaren? Bel pulang bunyi udah langsung kabur aja. Di telpon juga nggak aktif,”

“Kemaren aku pergi nonton sama Alya, sama sepupunya juga. Jadi hape sengaja aku matiin.”

“Cowok?”

Aku mengangguk.

“Udah aku tebak. Kamu jangan terlalu akrab deh sama Alya. Dia itu nggak baik buat hubungan kita. Aku yakin, dia pasti mau nyomblangin kamu sama sepupunya. Alya ‘kan dari dulu emang kurang suka sama aku.”

“Kamu bisa nggak, untuk nggak ngerokok depan aku. Aku paling nggak bisa ketemu sama asap rokok.” Aku mendengus kesal, sambil menutup hidungku dengan sapu tangan.

“Sorry. Aku lupa.” Trias meletakkan sisa putung rokoknya ke tanah lalu menginjaknya.

“Aku nggak ngerti deh sama kamu. Kamu tuh sekarang mulai berubah, nggak kayak Trias diawal-awal kita pacaran. Sekarang malah mulai ngelarang-ngelarang aku buat berteman.”

“Loh, aku kan pacar kamu. Jadi wajar dong. Soal perubahan sifat aku, ya inilah sifat asliku. Kamu nggak suka?”

“Aku nggak suka. Aku suka kamu yang lembut, perhatian, dan nggak ngekang aku kayak sekarang ini.”

“Ngekang? Aku cuma pengen yang terbaik buat hubungan kita, itu aja, kok. Kamu itu yang berubah. Udah mulai nggak peduli dan nurut sama aku. Atau jangan-jangan, kamu udah ada perasaan lagi sama sepupunya Alya?” tuding Trias.

Kami terus bercekcok mulut. Trias menuduhku sudah mulai jatuh hati pada sepupu Alya. Kata-kata kasarnya pun turut menggema di telingaku. Dan pertikaian kami berakhir dengan sebuah kata. PUTUS.

“Apa? Putus? Kamu mutusin aku cuma gara-gara cowok nggak jelas itu. Cowok yang baru kamu kenal kemaren.”

“Cukup ya, Trias. Ini semua sama sekali nggak ada hubungannya sama dia. Aku udah nggak kuat ngadepin kamu.”

“Oke, fine. Kita udahin sampe sini. Dan aku pastiin, suatu saat kamu bakal nyesel sama keputusan ini. Bye.

***

Berat rasanya membuka kelopak mata yang terlanjur bengkak. Badanku pun terasa malas untuk digerakkan. Aku tak ingin sekolah hari ini. Teman-teman pasti akan heboh melihat monster bermata sembab. Tapi bagaimana dengan ujian sekolahku? Haruskah aku melewatkannya begitu saja, dan harus mengulang di tahun depan? Ah, pilihan yang sangat bodoh.

Kukompres kelopak mataku dengan air hangat, lalu meminjam kacamata kak Vey agar sembabku tak terlalu nampak jelas.

Sayang, semua tak sesuai dengan apa yang diharapkan. Para sahabatku sangat jeli terhadap kondisiku. Begitu bel pulang berbunyi, mereka langsung menyergapku dengan berbagai pertanyaan. Aku hanya bisa pasrah, dan menjawab pertanyaan mereka sekenanya.

Trias dan gengnya melewati ruang kelasku. Sesaat, matanya menatapku dingin melalui kaca jendela, kemudian membuang pandangan dan kembali berbincang dengan teman-temannya. Luka. Situasi seperti ini sungguh menyiksa. Kenapa harus seperti ini? Tidak bisakah kita tetap berteman? Aku hanya bisa menatap punggungnya hingga menghilang dari balik tembok.

***

“Rin, aku masih sayang sama kamu. Jujur, selama ini aku cuma pura-pura cuek ke kamu. Tapi hasilnya nol, Rin. Aku tetep aja nggak bisa move on. Kamu juga ngerasain hal yang sama, kan? Gimana kalo kita ulang dari awal? Aku janji, aku nggak akan ngecewain kamu. Aku janji, aku nggak akan ngatur-ngatur kamu lagi. Aku akan berusaha sebisa mungkin untuk bikin kamu tersenyum. Kamu mau kan, kita balikan lagi?”

Aku melihat kesungguhan dari mata Trias. Tapi aku bisa apa. Aku takut kecewa lagi, meski di dalam hatiku nama Trias masih terukir dengan jelas.  

“Hubungan kita itu ibarat vas bunga yang udah pecah. Meski kita coba buat ngerekatkan lagi sama lem, hasilnya nggak akan sempurna.”

“Tapi kita bisa beli vas yang baru kan, Rin? Plis, jangan tolak permintaanku yang satu ini. Aku masih bisa ngerasain kok, kalo kamu juga masih sayang sama aku.”

“Sekarang segalanya beda, Yas. Hatiku udah jadi milik orang lain. Aku udah punya pacar. Bukan sepupunya Alya. Dia kakak tingkatku.”

Trias mulai bungkam. Sepertinya, dia akan menyerah. Dan itu akan membuat segalanya menjadi lebih baik.

“Aku nggak peduli. Mau kamu udah punya pacar, tunangan, atau suami sekalipun aku nggak peduli. Aku cuma mau kamu, Rin. Cuma kamu. Aku tau, aku udah bikin banyak kesalahan ke kamu. Makanya aku mau tebus semua itu. Terima uang ini. Ini uang yang udah kupinjem sama kamu selama kita pacaran, totalnya lima ratus ribu.” Trias meraih jemariku dan menyelipkan amlop pada genggamanku.

“Tapi, Yas…”

Trias tetap memaksaku menerima uang itu. Sebelum beranjak dari beranda rumahku, Trias berjanji, akan terus menungguku. Asalkan bisa bersamaku, ia rela bila harus menjadi yang ke-dua, bahkan yang ke-tiga 
pun ia rela.

***

“Serius banget ngeliatin langit senja. Lagi mengenang sang mantan ya?” Ledek seorang pria yang kini duduk di sebelahku.

“Iya, nih. Sang mantan yang sekarang naik derajat jadi pendamping hidup aku.” balasku, dengan senyuman yang tak kalah jahil.

-End-