Kamis, 11 Januari 2018

Resensi: Saatnya Intronspeksi Diri dalam Berbisnis

Judul Buku: Kembali ke Titik Nol
Penulis: Saptuari Sugiharto
Penerbit: Delta Saputra
Cetakan: Juli, 2016
Tebal Buku: 276 halaman
ISBN: 978-602-99999-9-0

SaIah satu hal yang menjadi tantangan bagi para pengusaha dalam menjalankan bisnisnya yakni menyeimbangkan antara ambisi dan keimanan. Meski bukan semua, tidak sedikit yang kadar imannya melemah akibat mengejar target. Inginnya dipandang sukses di mata sesama manusia. Segala macam cara dicoba entah kala itu Allah ridho atau tidak. Setelah sekian tahun terlena oleh pola bisnis yang dijalani, mendapat omzet besar tetapi di sisi lain utang malah makin tidak terkendali, barulah diri tersadar, "Saya sudah keliru. Saya telah menempuh jalan yang tidak diridhoi Allah."

Jalan keliru yang dimaksud adalah mengelola bisnis dengan modal berutang, dicicil beserta bunga yang berbunga. Sukar untuk dilunasi sehingga lambat laun melilit sekaligus mencekik si peminjam. Lebih dikenal dengan istilah riba. Sementara di dalam hukum Islam, ada larangan terhadap riba: "Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah, dan Allah tidak menyukai orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa" (QS. Al Baqarah 276). Dalam ayat lain QS. Al baqarah: 278-279 disebutkan bahwa: "Hai  orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.  Jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah bahwa Allah dan rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu, kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya."

Hadirnya buku ini bukan bertujuan untuk menghakimi,  namun lebih kepada mengajak berbisnis atau mencoba memulai kembali bisnis dengan cara-cara islami. Sebuah bisnis yang bisa dipertanggung-jawabkan di dunia maupun akhirat. Dilakoni dengan cara-cara bersih dan tentu hati menjadi lebih ringan dan tenang.

Mula-mula dengan memutuskan ikatan dari jerat utang riba yang diawali dengan taubat. Kembali pada Allah, memohon ampun dan bertekad melunasi utang serta meminta pertolongan-Nya. Memohon agar dimudahkan dalam menemukan solusi terbaik.

Buku ini telah merangkum banyak kisah inspirasi yang dapat menjadi pembelajaran bagi pembaca, terutama bagi yang sedang mengelola bisnis ataupun baru ingin memulainya. Di antaranya mengenai para pengusaha yang bertekad dan berjuang agar terbebas dari jeratan riba. Tentang mereka yang rela melepas aset-aset berharga dan memulai lagi dari nol demi mengejar keberkahan-Nya.

Meski aset-aset dan harta harus dijual, hingga dipandang bangkrut oleh tetangga, saudara, maupun teman. Yang penting tidak bangkrut di depan Allah. Rendah dalam pandangan manusia tidak apa-apa, asalkan kita mampu berdiri tegap di depan Allah karena patuh pada aturan-Nya (halaman 112). Ada pula kisah manusia-manusia tanpa utang.
Hidup tanpa utang, menghadirkan perasaan lega yang tak ternilai.

Merasa bebas karena tidak lagi memikirkan cicilan. Lebih fokus dalam berbisnis, bukan di utang (halaman 180-181).

Diuraikan dengan gaya bahasa yang segar, gaul, dan menggelora. Mengajak mawas diri sekaligus menggugah semangat. Sangat direkomendasikan bagi para pebisnis yang ingin introspeksi dalam berbisnis. Agar meluruskan kembali niat. Atau pola hidup yang mungkin masih perlu diperbaharui.[]

Resensi: Jiwa Kembar dalam Kasta Sosial Berbeda

Judul Buku: Kemolekan Landak
Penulis: Muriel Barbery
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Februari 2017
Tebal Buku: 364 halaman
ISBN: 978-602-03-3827-9

Sebuah novel filsafat. Yang alurnya berpusat pada pemikiran-pemikiran mendalam tokoh sentral di dalam cerita. Tak jarang menyajikan kalimat bernada sinis, tajam; sarkasme yang menggelitik. Namun di situlah letak daya pikatnya. Dan, landak, tentu bukan bagian dalam karya ini. Sebab ia merupakan bentuk kiasan dari seorang janda bernama Renee, sang tokoh utama. Wanita paruh baya yang bekerja sebagai penjaga gedung apartemen elit.

Ia memang memiliki pesona, keanggunan seekor landak: dari luar berperisai duri, benar-benar benteng, tapi di dalamnya ia juga sesederhana landak, hewan kecil yang secara keliru disangka acuh, liar, sendirian dan benar-benar molek (halaman 151).

Renee, memainkan perannya dengan sangat baik. Ia menciptakan kesan di mata orang-orang sebagai penjaga gedung pada umumnya: si tua yang jelek, judes, kurang berpendidikan, tetapi dapat diandalkan. Ia tidak menarik perhatian dan keberadaannya seolah tidak penting. Meski sebenarnya, andai mereka semua tahu, otaknya lebih cerdas ketimbang para penghuni apartemen dan punya selera bagus terhadap seni. Ia telah membaca banyak buku dari karya-karya sastra sampai dengan filsafat. Melahap tuntas karya Karl Marx, juga Anna Karenina karangan Leo Tolstoy hingga menamai kucingnya 'Leo'. Kebiasaan yang tanpa ingin orang lain tahu.

Melalui sudut pandang Renee, penulis  menampakkan kesenjangan yang terjadi antara kaum borjuis dan rakyat jelata di suatu wilayah di Prancis. Tepatnya di lingkungan gedung apartemen. Tentang bagaimana kaum kelas bawah memandang golongan kelas atas, pun sebaliknya. Bagi orang kaya, menurut Renee, rakyat kecil tampaknya  merasakan emosi manusia dengan intensitas yang lebih  lemah dan dengan rasa acuh lebih besar, karena tidak mempunyai oksigen uang serta keluwesan berteman.

Belum lagi dalam hal fisik. Terhadap yang cantik, orang memaafkan segalanya, bahkan tingkah-tingkah seronoknya. Sebaliknya, bagi yang kurang beruntung dalam tampilan tubuh, kecerdasan tidak pernah jadi kompensasi penyeimbang. Dan malah diperlakukan bagai mainan untuk mempertajam kontras. Yang buruk selalu menjadi tertuduh (halaman 39).

Selain Renee sebagai tokoh sentral, ada pula Paloma Josse, putri dari keluarga Josse (anggota parlemen yang sebentar lagi diangkat sebagai Ketua Dewan) yang juga tinggal di apartemen mewah itu. Gadis kecil eksentrik berumur 12 tahun yang berniat bunuh diri di usia 13 tahun demi melarikan diri dari masa depan borjuisnya. Kehidupan mendatang yang baginya telah bisa ditebak: terlahir dari keluarga kaya, orangtua kaya, dan sudah pasti ia pun akan kaya. Bukan hanya bunuh diri, ia bahkan berencana untuk membakar apartemen.

Segala keberuntungan dan kekayaan itu, ia tahu persis bahwa tujuan akhir hidupnya adalah akuarium (halaman 9). Hidup dalam kemewahan namun tak bisa membaur dengan alam. Bukan kehidupan macam itu yang ia harapkan.

Paloma bukannya bodoh, ia justru sangat cerdas. Namun seperti halnya Renee, ia sebisa mungkin berusaha mengurangi kemampuannya. Paloma tidak mau menarik perhatian karena dalam keluarganya tempat kecerdasan merupakan nilai tertinggi. Dan bagi anak yang  berbakat, ia tidak akan bisa santai.

Kemiripan ini, yang kemudian membuat Renee dan Paloma menyadari sesuatu kala mereka bertemu. Bahwa masing-masing dari mereka memiliki sesuatu yang tersimpan. Rahasia di balik kulit luar. Aura cerdas, begitu Paloma menyebutnya. Di sinilah, pertemuan dua manusia beda kasta, dengan jarak usia puluhan tahun, tetapi memiliki jiwa kembar. Dua jiwa yang saling menemukan, mendeteksi, untuk kemudian saling menyembuhkan.  Meski pada bagian penutup cerita, pembaca dihadapkan pada sesuatu yang mengejutkan. Tragedi yang mengguncang.[]

(Pernah dimuat di harian Singgalang, Minggu, 17 September 2017)

Resensi: Pejuang Kebebasan yang Menyerah untuk Menang

Judul Buku: Seumpama Matahari
Penulis: Arafat Nur
Penerbit: Diva Press
Cetakan: I, Mei 2017
Tebal Buku: 144 halaman
ISBN: 978-602-391-415-9

Nama Arafat Nur makin dikenal sejak bukunya berjudul Lampuki  memenangkan sayembara Dewan Kesenian Jakarta di tahun 2010. Tahun 2016 lalu, kembali ia mengukir prestasi dengan memenangkan sayembara serupa.

Masih tentang Aceh. Tanah kelahiran penulis yang memberi banyak pengalaman begitu membekas. Berhubungan dengan konflik di wilayah tersebut pada masa silam. Kali ini Arafat Nur kembali mengangkat tema senada, seperti karya sebelumnya yang ia susun berdasarkan sebuah catatan salah seorang pejuang Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Menariknya,  penulis menawarkan dua sudut pandang bagi pembaca dalam menikmati karyanya. Bisa dinikmati sebagai novel sejarah, atau sebuah novel romantis.

"Mati kena tembak adalah salah satu  jalan akhir dari banyak jalan akhir lain pada kehidupan ini. Meskipun begitu, secara tidak langsung, saat ini telah menjadi  pilihan yang dengan sadar sedang kami hampiri perlahan (halaman 13).

Inilah kisah sekelompok pejuang, tentang mereka yang bercanda dengan maut. Begitu akrab dengan aroma kematian. Tetapi tak satu pun dari mereka menganggap perang itu sungguh-sungguh.

Mereka berada jauh dari rumah meninggalkan keluarga tercinta. Tinggal di teratak pinggiran hutan yang terpisah dari pemukiman penduduk. Yakni markas berdinding kayu ala kadarnya yang sangat jauh dari rasa nyaman. Lantas apa yang mereka cari? Keadilan. Menuntut keadilan atas perang jahanam yang telah merenggut paksa suami dari istrinya, pun ayah dari anak-anaknya.

Adalah Asrul, tokoh utama dalan kisah ini. Terpaksa memilih jalan hidup yang sebenarnya tidak diinginkan. Menjadi bagian dari para gerilyawan untuk melawan tentara-tentara pemerintahan. Asrul dan kawan-kawan sesungguhnya bukanlah pengkhianat atau pemberontak yang dengan sengaja membuat onar. Mereka adalah kelompok penuntut kebebasan dan keadilan. Asrul sendiri turut bergabung karena hasutan orang-orang agar menuntut balas atas kematian bapaknya dulu yang mati kena tembak. Padahal beliau hanya petani biasa.

Kala itu pasukan tentara tengah memburu gerilyawan yang lari ke kebun keluarga Asrul. Mereka marah karena gagal menangkap sang gerilyawan. Rupanya seorang prajurit telah terbunuh dan senjatanya dibawa kabur. Tentara melampiaskan amarah dengan menembaki Bapak Asrul secara membabi-buta. Menuduh beliau sebagai pemberontak (halaman 73). Di lain kasus, salah seorang pemilik kedai meregang nyawa di tangan tentara karena menolak memberi uang yang katanya guna operasi bela negara. Mati mengerikan dengan tubuh penuh cabikan peluru dan sayatan senjata tajam.

Waktu terus bergulir, hingga di suatu waktu markas Asrul dan kawan-kawan terkepung. Dua sahabat karibnya tewas. Ada pun Asrul sedang tidak di sana karena ia pulang setelah tiga tahun tinggal di hutan. Kawannya yang mengabari lewat telepon genggam. Asrul tak punya pilihan selain melarikan diri karena orang-orang yang telah diringkus pasti ada yang berkhianat dan memberitahu keberadaannya. Ia pun minggat ke kota lain. Luntang-lantung, bahkan menjadi gelandangan.

Setelah berhari-hari tidak punya tempat tinggal dan makan bekas sisa orang, ia ditemukan oleh Putri. Gadis kenalannya saat singgah sebentar ke meunasah di kota kecil Krueng Geukuh beberapa waktu lalu. Pertemuan yang jauh dari romantis, di depan jamban. Saat itu, di perjumpaan pertama, Putri meminta tolong pada Asrul untuk menyisir rambutnya. Aneh memang, ada seorang gadis jelita tetapi tidak pernah bisa menyisir sendiri rambut panjangnya. Kehadiran Putri dalam hidup Asrul, yang kemudian membuatnya berbalik pikir. Apa guna perang yang tak berujung ini? Menjadi pembunuh yang sewaktu-waktu bisa terbunuh. Ia ingin hidup normal. Asrul mungkin dianggap kalah bila ia menyerah, tetapi sejatinya ia menjadi pemenang kehidupan. Terbebas dari misi pembalasan dendam, dan leluasa menjaga orang-orang tercinta.

Membaca karya ini, menimbulkan ketegangan tak biasa karena penulis sesekali menyelinginya dengan lelucon, bahkan di area perang pun masih terselip canda gurau. Ada salah satu bagian yang menyentuh, yaitu pertemuan menggetarkan antara ibu dan Asrul. Betapa tidak, bertahun-tahun anak beranak terpisah. Hidup atau matinya entah.

Sebuah novel sejarah kontemporer yang digarap dengan apik dan berkesan. Alur berjalan alami dan menyentuh. Memuat pembelajaran bahwa hidup memang selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan. Paksakan egomu meski harus mengorbankan banyak hal, atau kembali menata hidup di sisi orang-orang tersayang. Buku yang penting untuk dibaca dan direnungi.[]

(Pernah dimuat di harian Lampung Post, Minggu, 29 Oktober 2017)

Rabu, 30 Agustus 2017

Resensi: Keteguhan Perempuan Memeluk Rasa Sakit

Judul: Tentang Kamu
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Republika
Cetakan: I, Oktober 2016
Tebal Buku: 524 halaman
ISBN: 9786020822341

Rasa sakit sudah pasti pernah hinggap di hati siapa saja. Bisa karena situasi yang tidak diharapkan (nasib buruk), dikecewakan, dikhianati, ataupun diperlakukan secara tidak adil. Di sinilah kadar kesabaran seseorang teruji. Namun ketika kesakitan demi kesakitan terus saja menghampiri, bisakah kita terus bersabar?

Kali ini Tere Liye kembali menyapa pembaca dengan menyuguhkan kisah apik yang menyentuh dan inspiratif. Ada banyak pembelajaran yang bisa diambil dari tokoh-tokoh karangannya. Tidak tanggung-tanggung, penulis memakai lima tempat sekaligus sebagai latar dalam novelnya.

Kisah bermula ketika Zaman Zulkarnaen, pengacara kelahiran Indonesia yang bekerja di firma hukum Thompson & Co di Belgrave Square, London, ditunjuk oleh pimpinannya untuk memecahkan kasus pencarian ahli waris dengan aset kepemilikan saham sebesar 10 miliar poundsterling/19 triliun rupiah (halaman 11).

Zaman terpilih untuk menangani settlement wasiat wanita bernama Sri Ningsih karena kesamaan latar belakang mereka. Ia dianggap lebih mampu dalam mengungkap kehidupan masa lalu Sri, termasuk ahli warisnya yang mungkin masih hidup (halaman 15).

Petualangan Zaman dimulai. Ia harus menelusuri tempat-tempat yang pernah bersinggungan dengan Sri Ningsih. Panti jompo di Paris merupakan tempat pertama yang ia datangi, mengingat kliennya mengembuskan napas terakhir di sana. Pihak panti pula yang pertama kali menelepon kantor Thompson & Co, atas permintaan Sri sebelum ia wafat. Berbekal buku harian Sri Ningsih yang didapat dari Aimee, pengurus panti, Zaman mendapat petunjuk mengenai tanah kelahiran wanita itu. Ia pun memutuskan untuk datang ke Pulau Bungin. Awalnya tentu tidak mudah menemukan orang yang bisa bercerita tentang masa 1940-an.

Beruntung, setelah pencarian hari kelima Zaman berhasil bertemu dengan Ode, atau yang biasa dipanggil Pak Tua oleh penduduk Pulau Bungin lainnya. Ia sangat mengenal Sri semasa kecil. Berdasarkan penuturan Pak Tua-lah, kisah masa kanak-kanak Sri Ningsih terurai. Sri lahir dari pasangan Nugroho dan Rahayu, pendatang dari Pulau Jawa, putri dari seorang pelaut tangguh. Ibunya meninggal saat ia dilahirkan. Delapan tahun kemudian sang ayah menikah lagi dengan Nusi Maratta.

Nusi sangat mencintai Nugroho, begitu pula kepada anak tirinya. Namun peristiwa memilukan yang menimpa keluarga mereka, membuat Nusi Maratta begitu membenci Sri Ningsih, bahkan dengan tega menyebut Sri sebagai anak yang dikutuk (halaman 85). Selang beberapa tahun setelah Nugroho meninggal, Nusi Maratta dikabarkan tewas terpanggang.

Tidak ada yang tersisa selain kenangan masa lalu yang menyedihkan. Sri bersama adik tirinya, Tilamuta, beranjak meninggalkan Pulau Bungin. Pergi ke Surakarta untuk  belajar di madrasah milik Kiai Ma'sum, kerabat gurunya.

Kisah berlanjut. Zaman terbang ke Surakarta untuk mengunjungi madrasah. Dari Nur'aini, putri Kiai Ma'sum sekaligus sahabat sejati Sri Ningsih, cerita muram kembali diurai. Tentang kedengkian yang membinasakan. Di tahun 1965 terjadi tragedi Pemberontakan PKI di Surakarta. Bertujuan untuk mengambil alih kekuasaan dengan melakukan tindakan keji: membunuh para kiai, tuan tanah, termasuk juga para santri hingga menjadikan madrasah masa itu tergenang darah. Peristiwa mengerikan itu membuat Sri memutuskan pindah ke Jakarta. Namun hantu masa lalu tetap mengikutinya hingga ia harus pergi keluar negri. Selain buku harian, Zaman menggali episode-episode kelanjutan dari kisah Sri Ningsih berdasarkan surat-surat Sri kepada Nur'aini.

Salah satu daya tarik dari novel ini adalah kejeniusan tokoh Zaman dalam mengaitkan potongan-potongan kisah silam Sri Ningsih. Bagaimana ia mengungkap penjahat utama dalam hidup Sri, dan kebenaran-kebenaran lain yang menjadi jawaban tentang ahli waris atas semua kekayaannya.

Sedangkan hal yang paling menginspirasi dan mengaduk hati pembaca tentu saja mengenai sosok Sri Ningsih. Kemalangan yang menimpanya bertubi-tubi membentuk karakter Sri menjadi perempuan dengan kepribadian luar biasa. Penyabar, gigih, inovatif, tidak mendendam bahkan sekadar berprasangka pun tidak. Benar-benar sosok yang menginspirasi dan sangat layak menjadi panutan.[]

(Pernah dimuat di harian Radar Sampit edisi Minggu, 27 Agustus 2017)

Senin, 07 Agustus 2017

Resensi: Ajarkan Budi Pekerti Melalui Dongeng


Judul Buku: Dongeng Pembentuk Akhlak Terbaik Sepanjang Masa
Penulis: Irma Irawati
Penerbit: Ziyad Books
Cetakan: 2016
Tebal Buku: 106 halaman
ISBN: 978-602-317-032-6

Mendidik anak sedari usia dini merupakan tanggung jawab sekaligus tantangan bagi para orang tua. Berbagai metode pun dilakukan demi memberi pengajaran hal-hal baik pada sang buah hati. Agar anak menjadi paham dalam membedakan baik-buruknya suatu tindakan serta risiko apa yang akan diperoleh nanti. Dan, bacaan berupa dongeng, hingga kini masih menjadi salah satu pilihan orang tua untuk mengenalkan putra-putrinya mengenai pentingnya memiliki akhlak terpuji.

Kumpulan dongeng pembentuk akhlak ini, berisikan sepuluh cerita dengan tokoh-tokoh hewan yang berprilaku layaknya manusia pada umumnya dengan tema beragam. Menariknya lagi, kesepuluh dongeng diramu berdasarkan pada hadis-hadis mengenai akhlak. Jadi selain menyimak cerita, anak pun bisa mencoba belajar menerapkan hadis itu dalam kehidupan sehari-hari.

Kisah pembuka berjudul Jangan Malu Dong, Robin! berkisah tentang Robin yang merasa malu ketika harus bercerita mengenai profesi ayahnya di depan kelas. Jauh berbeda dengan teman-temannya yang membanggakan pekerjaan ayah masing-masing (halaman 7). Di tengah perasaan malunya, teman-teman justru membesarkan hati Robin. Mereka memuji kehebatan Ayah Robin yang ahli memperbaiki dan membuat banyak benda. Hal itu menjadikannya tidak minder lagi dan berani untuk tampil. Robin baru menyadari bahwa pekerjaan ayahnya sebagai tukang servis perabot rumah tangga bukanlah sesuatu yang memalukan. Sang ayah adalah pahlawan keluarga dan penyelamat bagi barang-barang yang hampir tidak terpakai menjadi layak pakai.

Mengenai nafkah, Allah pun menyukai orang-orang yang makan dengan hasil keringatnya sendiri. Sebagaimana diriwayatkan dalam HR. Bukhari:
"Tidaklah seseorang memakan sesuatu yang lebih baik daripada hasil kerja tangannya sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Allah, Daud, makan dari hasil pekerjaan tangannya."
(halaman 13). Melalui kisah ini, anak akan belajar memahami dan menghargai pekerjaan orang tua. Apa pun profesi mereka, selama itu mendatangkan kebaikan bagi diri sendiri, keluarga, maupun orang lain, patut dihargai dan syukuri. Pesan untuk bersikap baik dan kemauan mendukung teman yang tidak percaya diri juga tersirat pada cerita ini.

Pada kisah berikutnya, penulis mengambil tema berdasarkan salah satu HR. Muslim, bahwa Allah swt., tidak memandang hamba-Nya berdasarkan rupa, namun hatinya. Dikisahkan tentang Bibi Mery, seekor merak yang merasa penampilannya paling bagus dibanding tamu undangan lain. Saking sibuknya menilai dan membanding-bandingan pakaian orang lain dengan dirinya, ia kelaparan karena tidak sempat mencicipi hidangan yang telah disediakan. Ia juga tidak sempat mengobrol dengan mereka yang jarang ditemui.

Ketika tadi Bibi Mery sibuk menertawai dandanan orang lain, kini giliran ia sendiri yang jadi bahan tertawaan orang-orang. Perutnya mengeluarkan suara karena saking laparnya dan minta diisi (halaman 55-56). Pelajaran yang bisa dipetik dari kisah ini ialah kesombongan tidak akan memberi keuntungan apa-apa bagi pelakunya. Daripada terlalu sibuk dengan penampilan luar, akan lebih baik bila diimbangi dengan berbenah hati.

Temui pula kisah-kisah hewan lain yang tak kalah asyik dan menarik untuk disimak, seperti: Pak Sepo, si ikan sapu-sapu yang giat menjaga kebersihan. Koci, burung kakaktua yang bawel. Ada pula kisah Pak Bingo, si bangau baik hati yang selalu berusaha menebar manfaat bagi makhluk di sekelilingnya.

Inilah sarana belajar yang menyenangkan. Dengan membaca atau menyimak dongeng-dongeng yang ditawarkan dalam buku ini, anak tidak hanya akan terhibur, namun juga melatih daya imajinasi dan menambah pengetahuan. Belajar akhlak dan hadis bersama tokoh-tokoh hewan tentu tidak membuat anak cepat bosan.

Dengan gaya penyampaian yang ringan sesuai untuk usia dini, ilustrasi full colour  yang menggugah rasa penasaran, serta bonus lembar mewarnai di halaman belakang, membuat buku ini semakin layak untuk diburu.[]

Peresensi: Leli Erwinda

(Pernah dimuat di harian Singgalang edisi Minggu, 6 Agustus 2017)

Sabtu, 29 Juli 2017

Resensi: Pengorbanan yang Membawa Keberuntungan

Judul Buku: Beauty and the Beast
Penulis: Madame de Villeneuve
Penerbit: Qanita
Tebal Buku: 244 halaman
Cetakan: I, Februari 2017
ISBN: 978-602-402-054-5

Sejak usia dini, kita telah diperkenalkan dengan dongeng yang beragam baik melalui penuturan langsung dari ibu, buku-buku, maupun tayangan televisi. Bukan hanya dari dalam negeri, dongeng luar negeri pun turut mengisi kenangan masa kecil. Salah satu yang tentu lekat di ingatan adalah kisah Beauty and the Beast. Ketika si cantik Belle, harus bersedia menikah dengan Beast si buruk rupa demi menyelamatkan nyawa ayahnya. Siapa sangka, pengorbanan Belle justru membawa pada keberuntungan luar biasa. Tak heran, kisah yang syarat akan pesan moral ini berulang kali diadaptasi menjadi serial televisi hingga layar lebar. Terbaru di tahun ini, Walt Disney merilis versi live action-nya yang diperankan oleh Emma Watson.

Sebuah novel karangan Madame de Villeneuve ini, diakui para peneliti sastra sebagai versi tertua Beauty and the Beast. Meski hingga kini versi ringkas yang ditulis ulang oleh Leprince yang paling dikenal dunia (halaman 237-238).

Diceritakan tentang seorang Saudagar dengan kekayaan berlimpah. Meski istrinya telah tiada, ia hidup bahagia bersama keenam putra dan enam putrinya. Namun tanpa disangka-sangka nasib buruk datang bertubi-tubi. Rumah beserta aset berharga hangus terbakar. Setelahnya bisnis sang Saudagar mengalami kerugian, kapal-kapal hancur diserbu bajak laut. Ia bahkan dikhianati dan ditipu oleh para pegawainya (halaman 9-10).

Dua tahun hidup dalam kemalangan, harapan baru itu menyapa. Kabarnya, salah satu kapal beserta barang dagangan milik Saudagar merapat dengan selamat di pelabuhan. Namun naas, yang terjadi setelahnya malah jauh dari harapan. Para mitra yang mengira dirinya telah meninggal dunia, membagi-bagikan isi muatan kapal (halaman 20).

Tak mendapat hasil apa-apa, ia pun memutuskan untuk kembali. Pada perjalanan pulang inilah sang Saudagar bertemu dengan sosok Beast. Ia singgah sejenak di istana milik sang monster, beristirahat dan menyantap makanan di sana, lalu tanpa izin memetik sekuntum mawar di lorong istana untuk memenuhi janjinya pada Belle. Hal ini yang kemudian memicu kemarahan Beast. Hingga sebuah kesepakatan pun terjadi. Saudagar itu akan terbebas dari kematian apabila ia menyerahkan salah seorang putrinya sebagai penebus kelancangannya.

Setiba sang Saudagar ke rumah, ia menceritakan segala hal yang menimpanya. Termasuk pertemuan dan perjanjian gila bersama Beast. Mendengar kabar buruk yang dituturkan sang ayah, tak satu pun dari saudari-saudari Belle yang sudi melakukan pengorbanan mulia itu. Mereka merasa Belle-lah yang paling layak bertanggungjawab atas apa yang menimpa ayahnya. Terlebih selama ini mereka menyimpan kecemburuan pada gadis itu. Ya, Belle dengan kecantikan dan kebaikan hatinya memang membuatnya lebih menonjol dan disukai siapa saja.

Belle pun setuju. Ia mengakui bahwa dirinyalah penyebab malapetaka ini. Tidak adil bila saudaranya harus menderita karena kesalahannya. Permintaan Belle kala itu memang tampak sepele, hanya minta dibawakan mawar pada musim panas. Siapa yang menduga kalau ia mesti mendapat hukuman begitu kejam? (halaman 41).

Membayangkan hidup bersama sesosok monster tentu terasa mengerikan. Namun Belle berhasil melaluinya. Banyak hal tidak terduga yang ia alami. Termasuk menyadari bahwa Beast tidaklah semengerikan yang terlihat. Ia berhati lembut dan sangat sopan terhadap Belle. Hingga di suatu malam dan malam berikutnya Belle bermimpi bertemu pemuda tampan. Ia mulai bertanya-tanya, mungkinkah pemuda itu juga tawanan Beast, sama seperti dirinya?

Sebagaimana dongeng pada umumnya, kisah ini memberikan pelajaran berharga bagi pembaca. Lewat tokoh Belle, pembaca akan semakin sadar betapa pentingnya berbakti kepada orangtua, juga kerelaan untuk berkorban demi orang yang disayangi. Belle bukan hanya cantik secara fisik, tetapi juga memiliki hati yang sangat mulia. Sungguh tak akan merugi seseorang yang berbudi baik seperti itu, sebab akhirnya kebaikan akan membawa seseorang pada kebahagiaan tak terhingga.[]

(Pernah dimuat di harian Radar Sampit pada Minggu, 2 Juli 2017)

Selasa, 25 Juli 2017

Resensi: Pencarian Jati Diri Sang Gadis Tembakau


Judul Buku: Genduk
Penulis: Sundari Mardjuki
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Agustus 2016
Tebal Buku: 232 halaman
ISBN: 978-602-03-3219-2

Sebuah novel bergaya memoar ini, disusun oleh Sundari Mardjuki berdasarkan hasil riset mendalam mengenai keluarga petani tembakau di desa Temanggung, Jawa Tengah, disertai tradisi masyarakatnya di era 70-an. Tokoh utama-lah yang nanti membawa pembaca pada kisah berharga, memetik hikmah dari fase hidup yang berhasil dilalui sebagai "gadis tembakau".

Gadis muda yang lebih akrab disapa Genduk, lahir dalam keluarga dan lingkungan petani di lereng Gunung Sindoro, Desa Ringinsari, Temanggung. Dibesarkan seorang diri oleh Yung (ibu) yang berwatak dingin dan keras, tanpa sosok Pak'e (bapak) di sisinya.

Genduk tidak pernah tahu seperti apa rupa bapaknya, namun ia bisa membayangkannya berkat penuturan Kaji Bawon, bahwa Pak'e memiliki perawakan tinggi dan gagah. Kulit bersih, tangannya halus, sehalus tutur katanya. Berbeda dengan Yung yang bertulang pipi tinggi dan menonjol,  terbalut bercak kehitaman akibat dijerang sinar matahari gunung (halaman 18-19).

Kala itu, Desa Ringinsari sedang musim tembakau. Segala yang dimiliki petani dipertaruhkan karena jenis tanaman ini telah menguji nyali petani sejak awal ladang dipaculi, ditanami, hingga masa panen. Selain butuh pupuk, benih yang ditanam harus ekstra dijaga dari gulma. Bila bibit mati, maka harus segera diganti dengan bibit baru (halaman 23).

Pupuk dan stok bibit yang memadai memerlukan biaya yang banyak. Itu berarti siapa punya banyak uang, dia yang akan bertahan. Sementara mereka yang keuangannya sulit, ketar-ketir. Tak ada jalan kecuali meminjam uang orang lain bahkan lari ke rentenir. Bila hasil penjualan tembakau baik, hutang bisa tertutupi. Sebaliknya, bila harga tembakau anjlok, petani akan semakin sulit karena terlilit hutang.

Tradisi. Seperti yang telah disebutkan di awal, bahwa penulis juga mengangkat adat kebiasaan turun-temurun masyarakat Jawa. Di awal musim memanam tembakau (hari wiwitan), penduduk sekitar lereng Sindoro melakukan ritual Among Tebal, tradisi memohon pada Gusti Allah agar panen melimpah.

Berarak menuju mata air Tuksari, semua orang berkumpul membawa aneka tumpeng: tumpeng putih, tumpeng kuning, dan tumpeng hitam. Ada ingkung ayam kampung, irisan telur dadar, buah-buahan, dan jajanan pasar (halaman 46-47).

Waktu terus melaju. Tumbuhan tembakau mulai kuat. Batangnya semakin besar dan kokoh. Setiap lembar daunnya adalah harta yang tidak ternilai, yang menjadi penentu hidup petani selanjutnya. Sembilan bulan hidup dalam keprihatinan akan ditentukan nasibnya dalam tiga bulan ke depan. Apakah daun-daun itu akan memberi laba atau justru malapetaka (halaman 66).

Pada masa panenlah para gaok/tengkulak melancarkan aksinya. Mempermainkan harga tembakau, mengakali petani, hingga Genduk terpaksa berurusan dengan gaok licik bernama Kaduk demi menyelamatkan penjualan tembakau ibunya.

Konflik semakin menderas, tak terbendung. Banyak fakta dan kejadian pahit yang mesti ia hadapi. Termasuk permasalahan petani yang memuncak ketika salah seorang warga bunuh diri karena tak kuat dipermainkan gaok. Dibarengi dengan upaya mencari jejak bapaknya, serta masalah demi masalah yang mesti ia selesaikan, di sinilah karakter Genduk semakin terbentuk.

Secara keseluruhan, tokoh Genduk mewakili sosok perempuan belia tangguh, cerdas, dan tanggap yang tidak hanya mampu membawa pengaruh besar bagi keluarga, namun juga lingkungannya. Keteguhan hati serta keberaniannya dalam mengambil sikap membawa warga pada keadilan yang pantas mereka dapat. Memberi pelajaran bahwa seseorang tumbuh bukan sekadar untuk mengejar pengakuan, namun mencari keadilan, kebenaran, yang bahkan di era saat ini makin abu-abu.[]
***

(Pernah dimuat di Harian Singgalang, Padang, pada 2 April 2017)